Halaman Terakhir Komik

Tadi sore, akhirnya ke shoping center lagi, mencari-cari buku yang akhirnya tak ditemui.  Akhirnya malah beli beberapa jilid komik.
😐

Pada halaman 184, ada bagian tambahan cerita di luar alur cerita utama.  Sub judulnya Jorney to Digital Master. Dimana ceritanya sang pengarang yang sebelumnya keukeuh tak mau menggunakan komputer dan grafik komputer untuk membuat karyanya, akhirnya tertarik untuk mempelajari sesuatu yang bernama software animasi.  Dia membayangkan karyanya lebih dari sekedar komik, tapi berbentuk animasi yang bisa bergerak.

Akhirnya dia eh beliau konon ikut kursus dasar komputer, membeli perangkat komputer, sampai membikin repot orang-orang karena tampaknya ada aja masalah yang terjadi dengan komputernya, ya entahlah kenyataannya.

Dia mengganggap dirinya :  “TK dalam soal komputer”
Tapi katanya lagi :” bukan berarti tak bisa”

Toh, sepertinya usaha kerasnya berhasil.  Soalnya entah kapan dulu, saya pernah sekilas menonton kartun Kung Fu Boy di televisi, ya cuma sekilas karena dulu ditayangkan lewat satelit via antena parabola yang mana di rumah belum pernah mempunyainya.

Dua nilai moral yang dapat saya ambil adalah :

  1. bahwa kadang harus ada satu titik kompromi antara idealisme dengan perkembangan tekonologi demi sesuatu yang lebih baik.
  2. usaha keras pastilah ada hasilnya, dan itu selalu dibarengi dengan semangat.

Ah iya, tokoh yang diceritakan di atas adalah, tentang sang kreator Chinmi.

—–

daftar pustaka

Takeshi Maekawa. 2008. New Kung Fu Boy 8.  Gramedia. Jakarta.

 

Advertisements

7 thoughts on “Halaman Terakhir Komik

  1. Alex©

    Ah, aku ingat pernah melihat halaman itu di komik Kung Fu Boy. Memang nampak kasihan dia yang biasa menggambar dengan tangan jadi harus biasa pakai komputer. Hehe. Tapi sisi menarik halaman curcol itu tak lain adalah kemampuannya menertawakan diri :mrgreen:

    warm : dan bagian halaman itu keren, rasanya pernah liat jg di komik yg lain lembaran tambahan semacam itu 😀

    Like

    Reply
  2. Antyo Rentjoko

    OOT: Lama saya gak ke Sasana Triguna. Pada zaman saya muda (aha!) nama ini aja tak dikenal, apalagi sekarang. Orang tahunya “shopping centre”.
    Sudah 25 tahun lebih saya ke sana. Ternyata masih ada. 🙂

    warm : ah saya baru tau kalo itu nama aslinya, makasih infonya paman 🙂

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s