Membaca Buku Berat

Judul yang aneh, rancu bin ambigu memang.  Jadi saya sering bingung, ya kalau membaca novel, apalagi komik yang irit teks tapi sarat gambar itu.   Apalagi kalau jalan ceritanya menarik, bisa-bisa tak sampai sehari pasti tamat.  Masuknya ke otak juga enak banget, mengalir begitu lancarnya.

Akan tetapi, buku yang rada serius, contohnya Talent IQ yang dibeli entah sejak abad kapan itu, berbulan-bulan tak jua khatam.  Atau buku bersampul orange berjudul nyaman Asas-asas Penelitian behavioral. yang sudah saya kenal sejak tujuh tahun yang lalu, yang padahal sudah juga berbentuk terjemahan.  Malah mujarab sebagai bahan bacaan pengantar tidur, baru beberapa lembar mengamatinya, pasti pening terus langsung nyaman terbang ke alam mimpi.

Mungkin karena bagian otak yang mencerna dua jenis bacaan itu beda, tapi menurut saya sih, kan objeknya sama-sama buku, subjeknya juga sama-sama mata plus otak plus keinginan untuk mengerti isinya dari awal sampai akhir.

Kalaupun ada keinginan yang ingin dikabulkan, saya inginnya punya kemampuan membaca buku teori-teori yang dirasa berat seringan *maksudnya sama ringannya dengan -red*mengakhiri lembaran-lembaran novel atau komik dalam sekali tebas.  Juga ingin membuat karya tulis yang mungkin harusnya mumet dengan bahasa yang mudah dimengerti.  Mungkin semacam kartun Riwayat Peradaban karya Larry Gonick.

Ya di luar itu, saya teringat akan kuliah tadi pagi, saat dosen saya bercerita bahwa ada empat macam orang dalam hal penyampaian materi.  Pertama menyampaikannya secara lisan enak, tapi pas bikin tulisan susah dimengerti.  Kedua adalah kebalikannya.  Ketiga adalah enak dalam penyampaian, dan gampang pula mengikuti tulisan karyanya,  dan yang ke empat nih, cara menyampaikannya susah dimengerti, tulisannya pun sulit untuk dipahami.

Dan saya merasa, ada di kuadran empat itu.  Tapi ya, saya pernah membaca entah dimana lupa, kalau ingin bagus menulis, harus lebih banyak lagi membaca, ya ‘membaca‘ dalam tanda kutip.

Jadi demikianlah, saya mau meneruskan bacaan yang belum selesai dari beberapa hari yang lalu :  serial Pasukan Mau Tahu, Misteri Berita Aneh by Enid Blyton..

😐

Advertisements

9 thoughts on “Membaca Buku Berat

  1. tiieee

    haha sama lah om.. buku berat yang memang berat dalam artian sebenarnya juga ada beberapa yang tidak selesai2 saya baca 😀 *dudul*

    *melanjutkan membaca buku berat lainnya*

    warm : wih melanjutkan baca buku berat 😐

    Like

    Reply
  2. Takodok!

    Kata penulis produktif, menulis juga perkara latihan, om. Mungkin membaca juga perlu latihan 😀

    warm : iya tampaknya saya harus belajar lebih banyak dari kau *hloh

    Like

    Reply
  3. Kimi

    Sama, Om. Aku juga selalu kesulitan menyelesaikan baca buku nonfiksi. Kok beda banget ya dengan membaca novel yang bisa selesai hanya dengan sekali tebas? Halah.

    warm : ah kau suka merendah sahaja ck ck gpp sih kesulitan tp kelar, daripada sulit tp ga kelar2 *halagh

    Like

    Reply
  4. alfakurnia

    hahaha toss juga ah…
    saya nggak pernah suka baca buku non fiksi, meski jenis buku pengembangan pribadi yang laris manis itu. mending detektif conan dan novel deh.

    warm : saya akhir2 ini tampaknya harus dipaksa untuk suka hehe dan wah detektif conan, saya blm baca jilid 66 nya 😀

    Like

    Reply
  5. sha

    ideeem, oom… 😀 kalo baca buku-buku ‘berat’ koq rasanya harus baca berulang-ulang baru paham, itupun pahamnya cuma sedikit. 😆

    warm : tampaknya niat baca buku berat harus disamakan sama baca komik, nah masalahnya adalah BAGAIMANA CARANYA COBA ? 😆

    Like

    Reply
  6. putrimeneng

    membaca buku berat ? membaca buku yang ditempelin beton precast? *eh 😐

    saya lebih suka baca komik om, nanti ceritain aja ya om isi “buku berat” tadi 😀

    warm : mending nyeritain isi cerita Kungfu Boy deh 😐

    Like

    Reply
  7. Catastrova Prima

    mungkin buku non fiksi kalau kita tertarik dengan materinya, sama juga kayak baca fiksi mas hehehee *lempar buku Psikologi Abnormal

    warm : logis sih *lempar buku psikologi sosial*

    Like

    Reply
  8. alfakurnia

    woooh… detektif conan no. 66 sudah terbit? lha yang 65 aja saya belum baca :(( ceritain om :p

    warm : udah berapa minggu gitu terbitnya, saya jg blm beli, ntar deh saya ceritain :mrgreen:

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s