Pencuri Nasi

Kompas edisi minggu ini, di halaman 17, ada berita berjudul “Gara-gara Mencuri Nasi, Ujian Nasional di Tahanan”. Berita serupa bisa dibaca di antarajatim.

Berita pendek di atas, membuat saya sedih sekaligus bingung.  Sampai segitu teganyakah pemilik warung, yang nasinya dicuri oleh siswa asal Purwosari, Bojonegoro itu, sampai tidak mau mencabut aduannya pada polisi.  Selain tukang warung, ada juga warga lain yang mengaku kehilangan ayam aduannya yang dicuri Tf, siswa tersebut untuk kemudian disembelih dan dimakan, bukan untuk dijual.

Poin utama yang seharusnya diperhatikan oleh tukang warung dan pemilik ayam itu, adalah sepertinya tertuduh terpaksa mencuri karena mereka miskin.  Saya tak habis pikir, terlebih itu polisi juga hanya bisa berkata “Kami melaksanakan proses hukum bergantung pengaduan masyarakat“.  Kalau masalahnya adalah cuma nasi dan ayam yang dicuri, tidak adakah yang terniat untuk urunan gitu, membebaskannya.

Hal-hal berkenaan dengan hukum yang sepele bin ajaib ini gini yang membuat saya gemes segemes-gemesnya.  Apalagi sudah tahu dari keluarga tak mampu, padahal kan tinggal diikhlaskan saja, beres.  Seandainya saja itu tukang nasi dan pemilik ayam membaca postingan ini, silakan deh tagih ke saya kerugian yang ditimbulkan anak itu supaya bebas.

Judul berita itu sendiri, seakan mengingatkan saya pada saat sekolah dulu, saya juga pernah mencuri nasi, dari ibu kos saya.  bedanya, saya tidak diadukan beliau ke polisi, malah mempersilakan untuk mengambil sisa-sisa nasi yang ada di panci, tak perlu diam-diam mengambilnya saat lapar.

Masa-masa yang sebenarnya tidak begitu susah, tapi saya yang sering merasa malu tak pada tempatnya, hingga untuk meminta sedikit nasi saja malu.  Memang pada suatu waktu tak bisa mengatur uang makan saat kos.  Hingga akhirnya budget yang tersisa hanya cukup untuk memasak sebungkus mi goreng pada malam hari, setelah siangnya pernah cuma makan kue doang, sementara paginya mbuh lupa. yang berujung diam-diam mengambil sisa-sisa nasi di panci ibu kos, dan kemudian akhirnya ketahuan.

Jangan tanya bagaimana malunya saya.  Semoga ibu kos saya dulu itu, dilimpahkan rejeki berlimpah oleh-Nya.

Kembali pada kasus di atas, kenapa tidak bertindak seperti ibu kos saya itu, malah kemudian memberikan nasinya pada saya, membantu, bukannya malah mengadukannya kepada pihak yang seharusnya berwajib membantunya, bukan menahannya.

Lieur !

Advertisements

8 thoughts on “Pencuri Nasi

  1. LJ

    klo aku yang jadi ibu kos waktu itu
    om warm bakal ujian di warung padang
    *ceritanya aku pengusaha rumah makan.

    *tapi abis itu ditelpon sama Pidi Baiq.. ciee 😛

    warm : kalo saja kala itu sampeyan punya rumah makan padang, saya mau deh jd pelayannya, seriusan 😀

    Like

    Reply
  2. kw

    lapar memang tidak bisa menunggu,….
    kasian memang anak itu, tp knp kok ya ga minta aja, malu, ya itu bagian dari risiko… drpd nyolong aku kira meminta resikonya lebih kecil
    tetap semangat

    warm : sifat malu itu kadang memang aneh dan sering tidak pada tempatnya, mas. tak semua orang bisa punya sikap kayak sampeyan. ya contohnya saja saya dulu itu, lebih milih ngambil sisa nasi ibu kos diam2 daripada memintanya terang2an
    😐

    Like

    Reply
  3. naussea

    saya juga pernah dengar cerita sebelumnya om, ttpi ini menarik.

    entah lupa diblog apa saya bacanya, yg jelas ketika nenek mencuri pisang untuk digoreng, kemudian tertangkap dan divonis penjara 3 bulan atau denda 1 juta. tetiba hakim mengeluarkan uang 1 juta utk menebus nenek tersebut dan kemudian mendenda masyarakat sekitar karena telah membiarkan orang kelaparan, saya lupa pasal yg berkaitan dgn itu sih om, pokoknya kurang lebihnya ceritanya seperti itu deh 😀

    *poff* ngilang :p

    warm : wah saya baru tau,salut untuk hakim yg satu itu, semoga semuanya bisa berpikir seperti beliau

    Like

    Reply
  4. putrimeneng

    itulah om, ga semua manusia sama, ketika menghadapi kasus yang serupa, ga semua pakai hati, ebetewe kalo menurutku gimana kalau aparat hukum itu ga sekedar bekerja dengan undang-undang tapi juga memakai hati nurani, jadi inget nenek2 mengambil kakau di perkebunan dan harus menghadapi tuntutan 4 tahun penjara….saya pikir hakimnya kok ya ndak pake nurani ya 😐

    tumben pagi-pagi serius amat sayah

    warm : iya serius sekali ini, ada apa gerangan 😐

    Like

    Reply
  5. r

    😐 ya memang, sesuai aduan masyarakat… ya memang efek jera… tapi apa ya perangkat desa & penegak hukum gak bisa memberikan solusi, musyawarah untuk mufakat gitu?
    tapi kadang-kadang, berita yang ditulis juga gak valid, kadang susah juga mau percaya, masak org kita segitunya… seingat saya, org kampung itu lebih gampang ikhlas lo dibanding org kota, kami di kampung kan semboyannya: mangan ra mangan sing penting rukun *eh

    warm : ya saya jg berharap itu berita ga valid, tapi sepertinya meyakinkan, tapi ya gimna kenyataannya gitu, smoga tak sepatah pemberitaan itu ya 😐 *mbulet*

    Like

    Reply
  6. Clara Croft

    Wah, kalo jaman saya kos, kalo lapar tinggal pergi ke arisan, hehehe.. pasti ada nasi Warm 😀 Btw, jahat banget yang mengadukan pencuri nasi. Coba dia ketemu koruptor belum tentu tuh diadukan, hehe

    warm : soal hukum dimana-mana emang ajaib 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s