Menyoal sedekah

Gara-garanya kemarin ngebaca twitnya adhitya mulya, bahwa postingannya tentang sedekah yang katanya banyak menuai hujatan. Oh ada apakah ?

Ternyata itu adalah opininya berdasarkan kesimpulan yang diambil dari hasil ceramah ustadz Yusuf Mansur yang pernah diikuti saat di KBRI.  Kebetulan opini bapak yang satu itu, tidak sependapat dengan tausyiah ustadz.  Intinya sih, masa kalau mau sedekah harus hitung-hitungan dan mengharap pamrih.  Lalu pak Adhit menganggap isi ceramahnya bisa menjerumuskan.  Baca saja lengkapnya di postingan itu, yang ujung-ujungnya berisi detil tentang keutamaan sedekah di mata.

Lalu apakah opini Adhit itu salah ?
Nggak salah lah,
Lalu apakah isi ceramah ust Yusuf Mansur itu salah ?
Ya Ngga lah.
Lah lalu gimana ?

Jadi berdasarkan pengetahuan saya yang baru sejengkal ini, terutama terkait masalah sedekah.  Bahwa Adhitya bisa mengatakan berdasarkan ilmu yang diperolehnya, bahwa sedekah ya sedekah, harus ikhlas, tanpa pamrih dan hanya mengharapkan ridho Allah,  dan tanpa meninggalkan ibadah wajib, terutama sholat, lalu jangan cuma pas kepepet.

Itu, sebenarnya adalah sama persis dengan apa isi tausyiah ustadz.
Hloh, lalu knapa bisa seakan-akan Adhit tak sependapat -dalam beberapa bagian- dengan Yusuf Mansur ?

Kalau menurut pendapat sok tau saya.  Ibarat Adhit melihat sebuah rumah.  Baru sekedar melihat bentuk fasade-nya.  Belum tahu bagaimana sisi kanan kiri dan belakangnya.  Bagaimana interiornya.  Bagaimana pondasinya.  Bagaimana kekuatan beton penyangganya. Bahan penyusunnya apa saja.  Lalu berapa perbandingan semen dan pasir untuk bagian dinding, lantai, dan.. *malah kemana-mana gak jelas*  Pokoknya begitu lah.

Isi pesan ustadz Yusuf Mansur kalau didengar dan dibaca sekilas, bisa jadi mengakibatkan sesat fikir.  Coba saja kalau sang Adhit membaca semua ya atau beberapa buku yang disusun beliau, mengikuti tausyiahnya setiap jam lima pagi dari senin sampai jum’at.  Rasanya tak bakal

Karena toh sebuah ilmu,tak hanya bisa didapatkan dalam waktu singkat.  Dan seperti hal-hal apapun di dunia ini,  pasti banyak sisi yang harus dillihat dan dipelajari.  Itulah kelemahan sebuah opini, kadang bersikukuh dengan pandangan atas beberapa sisi secara parsial saja.  Apalagi hanya menilai dengan kapasitas otak yang sangat terbatas.  Sepintar apapun seseorang.

Apalagi terkait ilmu agama, tak bisa juga menafsirkannya sendiri, tanpa bimbingan guru.  Kemungkinan besar bisa mengakibatkan sesat fikir.  Hasilnya, apalagi kalau tak ada hidayah, bukannya bagus malah beneran bisa terjerumus.

Sekilas, memang tampaknya sedekah, yang disampaikan oleh ustadz Yusuf Mansur itu ilmu yang sederhana.  Intinya adalah memberi. Tapi tak cuma itu.  Masalah memberinya, harus disertai keyakinan kepada Allah.  Menyerahkan segala-galanya kepada-Nya.  Intinya adalah tauhid.  Di dalamnya juga tak terlepas  pada sistem ibadah yang kita jalani sehari-hari, ibadah wajib maupun sunat.  Serta bagaimana usaha kita menyempurnakannya.

Lha jadi panjang, sampai disini saja saya berani menyampaikan apa yang saya ketahui.  Mudah-mudahan nyambung dari atas sampai bagian ini.

Demikianlah.
😀

Advertisements

8 thoughts on “Menyoal sedekah

  1. devieriana

    hihihi, kemarin baru saja saya juga membahas tentang logical fallacy macam itu sama temen saya.
    Intinya melihat segala sesuatu itu harus secara holistik, jangan cuma setengah-setengah, baru kemudian dicerna. Lha iki ora’e, temen saya itu yakin seyakin-yakinnya kalau apa yang diyakini itu benar, padahal ya kalau ditelusuri ada janggalnya 😀

    warm : saya aja sering gitu kok, suka langsung menarik kesimpulan, padahal taunya cuma seiprit, jadi emang masingf2 harus lebih bijak kali ya memandang sebuah persoalan 😀

    Like

    Reply
  2. naussea

    sebagai sarana bertawasul juga mungkin om, begitu sih yang diajarkan kanjeng Nabi Muhammad SAW dulu.

    seperti berpuasa nazar aja gitu om dengan niat utk mendapatkan sesuatu, semisal

    Ya Allah, semoga dengan puasa sunnah yang aku jalani, aku bisa meminang si ehm, amin 😀

    warm : amin, om 😀

    Like

    Reply
  3. putrimeneng

    kalo saya yang juga suka mengambil kesimpulan semena-mena ini, yakin bahwa sedekah akan membawa kebaikan bagi saya, saya yakin bahkan ngerasa lebih afdol kalo menginginkan sesuatu dengan menambah nilai sedekah, bukan bermaksut hitung-hitungan, cuma malu aja sama ALLOH udah minta ini itu, masa saya ga bener2 serius melaksanakan apa yang disukai ALLOH

    jadi om, mau tau kekuatan betonnya berapa, sini saya ajari *sok pinter*

    warm : keren euy komennya, dan soal beton, ga usah diajarin, kasih saya aja sini betonnya, ama rumah2nya sekalian 😆

    Like

    Reply
  4. natazya

    akhirnya jadi buka buka twitnya tuh… :p

    ga mau ngomongin sedekahnya.. pokonya sedekah ya sedekah… diri sendiri dan Alloh yang tau, ajah…

    tapi ya itu dia.. emang cuma manusia sih.. manusiawi banget sbenernya langsung berkomentar tanpa cari tau lebih lengkap lagi… masalahnya, di ranah maya dan sebagai orang yang banyak yang “pengikutnya”, mau ga mau buat issue yang sensiitif sih lebih peka dan lebih jaga kata aja kali ya…

    pada intinya, kalo blom ngerti bener, dont comment!

    aku ngerti ga nih om post mu menurutmuuuu??? 😆

    warm : ya kau pasti ngerti lah, bijak sekali kau nona, eh nyonya 😀

    Like

    Reply
  5. emfajar

    jadi emang untuk memahami suatu ilmu ga boleh setengah2 harus menyeluruh ya..

    warm : terkait dengan apa yang kita yakini benar, adalah harus adanya

    Like

    Reply
  6. neng fey

    klo saya malah menyoalkan, kenapa postingan dari tahun 2009, dia baru ngeh klo yg komen ke dia ada segitu banyaknya. Membuat saya mbikin statement asal2an “dia somse, karena ga mau bales komen2 dari pembacanya” huehehehe

    warm : maklumlah seleb, mana sempet ngebales, apalagi komen2 yg menurutnya mengecam 😀

    Like

    Reply
  7. galihsatria

    Kalau menurut saya, tidak ada salahnya berpamrih kepada Allah. Lha masak berpamrih aja nggak boleh. Allah itu mahabaik kok. Yang penting, kalau pas kepepet gitu terus sedekah sejuta lalu nggak dapat 600 juta, nggak boleh protes, kalau protes baru itu namanya tidak ikhlas. 🙂

    warm : ya emang gutu, intinnya meminta harusnya ya cuma pada-Nya saja, pasti dikabulin cuma bentuknya aja kadang kita nggak tau 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s