Legitimasi

Otak saya yang sesederhana kertas kardus ini, perlu beberapa waktu untuk mencerna kata sakti yang nekat dijadikan judul di atas
πŸ˜€

Gara-garanya, membaca kata pengantar oleh Prof Heru Nugroho di salah satu buku yang kok ya enak dibacanya.Β  Lalu saya gugling tentang beliau, ujung-ujungnya nyasar di sebuah tulisan yang menggunakan quote dari beliau.Β  Isinya lebih kurang demikian.

…struktur sosial kita dibangun berdasarkan legitimasi

Pikiran pun mumet sekaligus penasaran, opoo iku legimitasi dimaksud, ternyata sinonimnya adalah : pengakuan
😐

Penonton di kejauhan : Ono opo toh mas, pagi-pagi posting soal legitimasi, emang situ ngerti ..?

Egh, ntar saya mau nimpuk penonton yang riwil mulu ..

Gini, saya menduga-duga diri sendiri.Β Β  Jangan-jangan apa yang dilakukan selama ini tuh hanya demi sebuah pengakuan, alias mitisasi yang legi, atas apa ?

Misalnya gini, misal nih ya, cuma contoh nih, jangan dianggap serius, soalnya ga bisa nyari contoh sih, *mbulet* macam saya yang sok rajin posting di blog nyaris tiap hari, misalnya cuma gara-gara ingin mendapat pengakuan sebagai blogger.Β  Kalau ndak posting bagai penulis yang tak dianggap pemirsa *halaagh contoh yang ngawur*

Mungkin yang bisa dijadikan contoh bagus, adalah sosok Mahar di buku Laskar Pelangi, yang padahal adalah jenius di bidang seni, tapi karena teman-temannya tak mengerti kelebihannya, dengan kata lain : tak mendapatkan legitimasi dari kawan, maka dia dicap rada miring, aneh dan diluar nalar.

Tapi, kemudian saat dia membuktikan dirinya dengan kesuksesan merancang pertunjukan tarian ala Afrika saat karnaval tujuhbelas agustusan.Β  Baru kejeniusannya seakan-akan diakui, itupun mungkin cuma oleh beberapa gelintir orang seperti bu Muslimah dan Ikal.

Contoh lain, coba saja tengok sekeliling, dimana-mana orang perlu pengakuan untuk membuktikan dirinya.Β  Yang parah, ada sebagian yang meminta legitimasi, bukannya membuktikan diri sendiri atas apa yang bisa dibuktikan.

Toh, legitimasi akan muncul dengan sendirinya dari orang sekeliling kita, jika ada sesuatu dari diri kita yang memang patut untuk dilegitimasi.

Nah, mumet kan ?

Advertisements

4 thoughts on “Legitimasi

  1. tiieee

    menarik nih om bahasannya..
    tapi bener loh, kadang orang itu butuh legitimasi, cm caranya aja yang beda2..

    hmm, aku mungkin butuh legitimasi akan suatu hal..
    *mulai misterius πŸ˜† *

    warm : legitimititasi apaan itu yg misterius ? 😐

    Like

    Reply
  2. naussea

    legitimasi itu pengakuan, kalo dipisah peng – aku – an yang kata dasarnya ‘aku’ – apa hubungannya sama tulisan di atas yah πŸ˜€

    mbuh aku om πŸ˜€

    legitimasi ndak dilegitimasi sing penting nulis πŸ˜€

    warm : halagh bermain2 kata, mumet mas πŸ˜†

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s