nguping cadence

Beberapa malam yang lalu, saya main ke sekretariat federal jogja, karena kebetulan ada seorang bapak-bapak yang jauh-jauh dari jawa timur datang menyambangi jogja untuk bersilaturahmi.  Beliau itu pengalamannya sungguh lebar kali tinggi, alias luas.  Baik tentang sepedaan maupun tentang hidupnya.  Beliau biasanya disebut Turis Jawa, itu karena nyaris sekujur pulau Jawa sudah ditapakinya *lebih sering pakai sepeda*, dan seringnya lewat jalur yang tak umum pula.

Tak lama beliau datang, obrolan pun meluncur dan mengalir lancar, dan saat beliau ngobrol dengan pak Bambang *yang juga jam terbangnya touring sepedaannya juga sepertinya luar biasa buset sekali*, saya nguping.  Dan telinga saya beberapa kali menangkap kata “cadence“.  Saya yang pengetahuannya terbatas ini penasaran sekali, segitu pentingnya kah makhluk bernama cadence itu sampai berkali-kali diulang-ulang.  Sementara mau langsung gugling ya jelas ndak bisa toh karena gadget saya sungguh tak memungkinkan*lempar 8250 sama yang ngebaca sambil ngikik*

Setelah berhasil gugling sana sini, akhirnya menemukanlah apa itu sebenarnya cadence, yang intinya ternyata adalah putaran pedal per menit dengan satuan rpm.   Saya mendadak teringat akan seorang teman sesama anggota mapala dulu, teman saya itu kalau jalan nanjak keliatannya pelan sekali, biasa aja jalannya, nggak ngebut, nggak ngoyo.  Tapi ujung-ujungnya selalu dia yang memimpin.  Setelah saya amati itu dikarenakan ritme jalannya yang stabil, baik di jalan datar maupun kala menanjak.  Itu pun berlaku pada kayuhan pedal sepeda.

Saya pun iseng mencobanya, kala ngpit ke Kaliurang hari minggu kemarin, sekalian melatih kesabaran dan kestabilan.  Ternyata mengasikkan, napas lebih bisa diatur, kaki dan dengkul lebih terasa nyaman, tak ada lagi terasa tusukan di pinggang :mrgreen: dan bisa terus ngegowes dengan durasi yang lebih lama dibanding kala nggowes asal-asalan, dan yang jelas rata-rata kecepatan jadi lebih tinggi, walaupun tak sampai 1 km/jam bedanya.  Plus tak cepat haus.

Yang paling terasa saat nanjak dari Pakem ke Kaliurang, saya sekalian mengamati kecepatannya mas Ferdian yang juga ikut ke atas, dengan kecepatan rata-rata 10 km/jam ternyata bisa bikin lebih cepat sampai di patung urang lalu ngeteh di warung mbak Gin :mrgreen: . Dibanding minggu lalu saat nyoba sendirian kesitu dengan napas ngos-ngosan dan sebentar-sebentar mampir karena kehabisan tenaga.

Kesimpulannya adalah kesabaran, kestabilan, ketelatenan itu penting, tentunya harus dengan latihan yang terius menerus dan riang gembira 😀

Jadi, terimakasih untuk pak Turis Jawa atas ilmunya yang diam-diam saya curi, seperti Karna yang nyuri ilmu memanah dari Durna saat ngajarin Arjuna*halagh*


catatan kaki :

*salah satu referensi tentang cadence bisa dibaca disana.

Advertisements

One thought on “nguping cadence

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s