tentang Cadence (lagi)

Ya, saya sudah pernah posting tentang hal cadence ini, nyaris setahun yang lalu.  Saya teringat kembali akan hal ini saat sepedaan ke Kaliurang mencoba sadel dan pedal yang baru diseting, dan saya merasa ada yang salah saat itu. Mungkin iya lebih cepat sampai, tapi rasanya power habis-habisan pula dihabiskan *mbulet*

Akhirnya kembali membaca-baca notes di febuknya pak turis jawa, sembari mengingat-ingat pola kayuhan teman-teman yang saya tahu sering sepedaan jarak jauh.

Saya pikir dulunya cadence = stabilitas (waktu + jarak), saya melupakan faktor tenaga alias power, yang tiap-tiap orang jelas beda. Selama ini saat nanjak saya merasa rugi kalau kayuhan tak efisien, jadi harus seimbang dengan jarak yang ditempuh.  Akhirnya berusaha stabil tapi tak suka menurunkan gir tengah dan belakang, jadinya maksa, biar berat di dengkul yang penting kuat.

Tapi ternyata tidak, harusnya kayuhan itu tak perlu di push, tak perlu ngoyo, yang penting stabil tapi juga enak di dengkul. Mengutip kalimat seorang bapak yang namanya entah siapa dan entah ketemu dimana, intinya kata beliau singkat :

toh, kita sepedaan bukan sebagai atlit, kan ?

Jadi, ya harusnya kalau sudah terasa berat, turunkan saja tingkatan girnya, macam naik motor juga kalau nanjak tentunya pakai gigi rendah toh?  Mengingat saya juga baru-baru saja menikmati perjalanan bersepeda yang berjarak rada-rada tidak dekat, dan keterbatasam tenaga, tak seperti mereka yang naudzubillah powernya hingga nanjak pun bisa ngebut 😐

Dan sabtu kemarin, saat kembali naik ke Kaliurang.  Saya pun menerapkannya, berusaha stabil, sekaligus menata kesabaran, mengayuh pelan namun nyaman.  Senyaman apa yang saya rasakan tentu.

Akhirnya, sampai Kaliurang napas masih enak, tak ngos-ngosan, malah bisa nambah bonus nanjak yang lumayan ke gardu pandang Merapi yang kebetulan belum pernah kesitu.

Akhirnya saya berkesimpulan, kalau cadence itu tak lain dan tak bukan adalah mempelajari kemampuan diri dan sekaligus belajar untuk bersabar tak terburu napsu akan kecepatan maupun jarak yang bisa ditempuh.  Bisa dikatakan hal ini, dapat diwakili dengan kalimat singkat warisan nenek moyang

alon-alon asal kelakon

…demikianlah 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s