ke puncak Suroloyo

Niat awal sih cuma pengen sepedaan sampai Samigaluh, itu wilayah kecamatan di kabupaten Kulon Progo.  Niat yang lama untuk mengunjungi orangtua seorang teman yang sudah saya anggap seperti orangtua sendiri.

Jadilah pagi sekitar jam 6 meluncur ke arah barat, menyusuri ringroad untuk berbelok ke arah jalan kabupaten untuk kemudian belok kiri menuju Sayegan lalu belok kanan setelah kantor Kecamatan Minggir.  Rute awal yang santai karena jalan yang relatif datar, baru setelah jembatan yang melintasi kali Progo terlewati, bukit Manoreh seakan tersenyum menunggu untuk ditanjaki.

Sungguh tanjakan yang sekan tiada berujung, sepertinya lebih parah dari tanjakan Petir, membuat jantung deg-degan #hloh.  Tapi alhamdulillah, setelah melewati waktu nyaris dua jam dan jarak sekitar tiga puluh kilo, akhirnya sampai juga di tempat ortu temen saya itu.  Seperti biasa sambutan hangat oleh beliau yang selalu membuat saya terharu kalau berkunjung kesitu.  Kemudian ngobrol dengan bapak yang sedang sibuk merampungkan mushollah di samping rumah, sementara ibu sedang sibuk menggoreng tahu isi, sungguh kebetulan #eh

Sembari ngobrol ditemani segelas kopi panas dan sepiring penuh tahu isi yang juga panas, saya iseng-iseng menanyakan rute menuju Suroloyo yang rasanya tak begitu jauh dari situ.  Bapak pun bilang “kalau kesitu cuma sekitar sebelas kilometer, kalau naik sepeda sepertinya setengah jam juga sampai”.

Akhirnya saya pun pamit, dengan janji nanti pas pulangnya mampir lagi.

Menuju puncak Suroloyo rutenya mudah, iya yang mudah cuma rutenya 😐  .  Dari kantor camat terus lurus mengikuti jalan, dan tiga ratus sehabis kantor BRI ada penunjuk arah jalan ke arah kanan, disitu sih tertulis jaraknya : 8 km.

Tetapi ternyata, itu penunjuk jalan PHP, delapan kilometer apaan, ternyata jaraknya paling tidak sepuluh kilometer baru sampai ke area parkir puncak Suroloyo, itupun kembali dihiasi tanjakan yang aduhainya naudzubillah.  Dan nyaris empat kali setengah jam baru sampai 😐

Untungnya ban sepeda federal yang sudah diganti dengan ukuran 1.50 sangat membantu merayapi jalanan, beda jauh saat ke tanjakan Petir yang super terengah-engah, walaupun ada sekitar 400 meter jalan yang rusak parah sehingga sepeda terpaksa dituntun pelan-pelan.

Sesampainya di pertigaan, nanya arah dan jarak lagi sama mas-mas yang hadir disitu, menunggu kawannya yang bawa truk pengangkut kayu katanya.  Jawabannya : ikuti jalan ini aja mas, palingan nggak sampai satu kilo juga nyampe.

Dan itu mas-mas juga PHP 😐 Lebih dari satu kilo juga nyatanya.  Tapi syukurlah nyampe juga, walau belum berakhir sampai disitu.  Untuk menuju area puncak Suroloyo harus meniti anak tangga yang lumayan.  Saat bertanya sama ibu pemilik warung di situ, kata beliau : “Ke atas masih sekitar 200 meteran, dan ada juga kok yang iseng ngebawa sepeda naik kesitu”

Karena emang niat pamer hehe, akhirnya diangkatlah sepeda , ikutan nanjak ke puncak.  Sepeda saya itu materialnya besi, bukan aluminium apalagi karbon, jadi ya lumayan bikin pundak pegel.  Dasar kurang kerjaan.

Tapi saat tiba di atas, subhanallah keren, namanya di atas gunung dimana-mana juga keren.  Sayangnya candi Borobudur yang biasanya konon bisa dilihat dari situ tak nampak karena tertutupi kabut.  Sementara puncak gunung Merapi, Sumbing dan Sindoro juga disembunyiin awan. Tapi tak apalah.  Lalu foto-foto, objeknya sepeda tentu, saya mau minta tolong fotoin ama orang yang ada disitu malu dan tak pede, mau bikin foto selfie rasanya juga terlalu mainstream 😀

#cats

Setelah beberapa saat menikmati suasana di atas, baru kepikiran satu hal : ”Lhah ntar turun manggul sepeda lagi dong ? *istighfar*”

Untunglah namanya turun, lebih cepet dan ringan.  Mampir warung untuk makan siang dengan menu biasalah, mie goreng plus nasi, plus sayur tambah tempe , banyak ya?

Habis itu baru turun lagi.  Dan saya terpaksa mengingkari janji pada ibu dan bapak di Samigaluh, karena tampaknya pulangnya beda arah, selain  ada jalan yang rusak turunan balik kesitu pun tampaknya curam sekali.

Akhirnya pulangnya menuju pertigaan Kalibawang yang jalannya ternyata tak kalah curam, rem dua-duanya saya gencet sampai full juga sepeda terseret turun saking sangarnya turunan *istighfar lagi*

Sampai pertigaan kemudian belok kanan menuju perempatan Dekso.  Sesampainya disitu, belok kiri lagi, mengikuti jalan raya sampai bertemu dengan selokan Mataram yang saya susuri sampai menuju jalan pulang.

Lalu setelah total 85 kilometer akhirnya, sampai rumah, lalu mandi, lalu bikin postingan ini.  Demikianlah 😀

 

Advertisements

4 thoughts on “ke puncak Suroloyo

  1. wxrm Post author

    @zulhaq. lah justru banyak piknik itu membuktikan kalo saya ini.. .. iya kurang kerjaan sih 😐
    @annosmile. ayo mas dicoba sesekali hehe

    Like

    Reply
  2. Pingback: » ke curug Sidoharjo blog auk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s