Es Pleret, Mie Bakar dan Es Doger

Pertama

Minggu kemarin, lupa persisnya, waktu menyusuri jalan Solo, sekilas sudut mata saya melihat pedagang es di pinggir jalan Adisucipto, depan kampus Unriyo, dengan tulisan sederhana namun terngiang-ngiang di hati : es pleret.

Saya pikir awalnya itu adalah es dari daerah kecamatan Pleret, daerah yang biasa dilewati kalau mau ke Cinomati.  Tapi saat kemarin saya akhirnya penasaran dan mampir, kemudian memesan satu gelas es pleret seharga Rp.4000,-, lalu bertanya-tanya sama empunya dagangan, ternyata dugaan awal saya salah.

Es pleret ternyata berasal dari Magelang, isinya banyak juga: potongan roti, kelapa muda, agar-agar yang dari tepung hunkwee,  tape ketan ijo, dan yang khas adalah potongan makanan yang berbentuk seperti payung kecil dari tepung beras bernama pleret, kemudian disatukan oleh santan cair plus susu kental manis.

Konon kata penjualnya, sekarang sudah jarang yang jualan es pleret. Oya dinamakan pleret katanya mungkin karena bikin pleretnya itu dengan cara dipleret, alias dibentuk dengan bantuan jempol dan telunjuk.  Semacam dipites gitu, tau nggak dipites? Ya begitulah pokoknya.

Kesimpulannya: Rasanya enak, manisnya juga pas, dan harganya sangat murah lah, empat ribu dapet satu gelas es yang isinya bermacam-macam itu sungguh sekali rasanya.  Patut dicoba.

Kedua

Adalah gara-gara membaca entah dimana tentang adanya makanan bernama Mie Bakar, adanya di Jl. Gondosuli, itu jalan utama menuju rumah mas Andi yang sekaligus adalah Sekretariat MTB Federal Jogja.

Akhirnya kala bertamu kesitu dalam rangka mengembalikan pannier yang dipinjam, kemudian teringat akan warung makanan yang terdengar rada aneh itu.  Maka kesitulah akhirnya.

Tampatnya nyaman, ada perpustakaan mininya, ada mushollanya.  Daftar menunya juga meriah, walau saat menunggu pesanan agak lama. Tapi bisa dimaklumi, soalnya pikir saya namanya mie bakar pasti rada ribet menyiapkannya, harus fresh from pemanggangan.  Tak seperti nasi bakar yang mungkin agak cepat penyajiannya.

Akhirnya setelah menunggu lebih kurang lima belas menitan, pesanan pun datang.  Hoo ternyata yang namanya mie bakar itu adalah, mie goreng (tampaknya begitu, teksturnya mirip sama mie goreng bungkusan) , tapi ada campuran daun sawi, daun bawang, potongan-potongan kecil ayam, lalu dibungkus daun pisang dan dibakar.

Lumayan sih, Rp.11.000,- sudah dapat seporsi yang lumayan banyak, plus bonus pangsit dan segelas minuman ringan. Dan parkir gratis 😀  Cuma bagi saya bumbunya sedikit terlalu over, mungkin kalo dikurangin sedikit pas deh.

Es Doger Lempuyangan

Sebenarnya niat awalnya ingin mencoba es dawet Banyumas, yang banyak berjejer di belakang stasiun Lempuyangan, di depan  rel yang tampaknya tak terpakai lagi.  Tapi saat singgah, malah masuk ke penjual es doger dan batagor.  Soalnya intuisi berkata: tampaknya enak tuh.

Tumben intuisi berkata benar, es dogernya enak.  Lembut gimana gitu.  Mungkin karena es batunya dihancurinnya sempurna, kemudian kompisisi campuran degan, roti, susu coklat, tape singkong, potongan alpukat, susu dan sirupnya juga pas.  Jadi ya empat bintang dari saya !

Advertisements

7 thoughts on “Es Pleret, Mie Bakar dan Es Doger

  1. syukur

    pernah nyoba beberapa es dawet di situa, belum nemu yang rasanya pas. padahal di tempat asalnya banjarnegara dawet ayu banjarnegra enake ora ketulungan.hehe

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s