Anak Kos Pencuri Nasi

Ini cerita berpuluh tahun yang lalu, saat saya masih duduk di kelas tiga sekolah menengah yang jauh dari rumah, karenanya harus kos sejak dini.  Saya dua kali kos di tempat yang berbeda, yang terakhir adalah di tempat paman Leman ini, begitu kami menyebut bapak kos, kependekan dari Sulaiman.  Saya lupa apa yang mendorong saya pindah kos kesitu, yang jelas saya bersama lima orang yang satu kelas disitu.

Salah satu bagian yang saya ingat saat kos disitu adalah, salah seorang penghuninya yang ketauan istrinya paman Leman, yang kami panggil Acil, mengambil sisa-sisa nasi beliau di panci saat malam hari.  Untungnya beliau tak marah, malah setelah kejadian itu, mempersilahkan sang pencuri untuk mengambil sisa nasi yang tersisa, yang ternyata diambil diam-diam untuk sedikit menambah porsi makan malamnya yang cuma berupa sebungkus mi goreng instan.

Setelah diusut lebih lanjut, ternyata pencurian sisa nasi di dapur ibu kos itu, dipicu oleh uang bulanan yang pas-pasan, ditambah kekurangmampuan mengelola jatah bulanannya, sehingga hanya cukup untuk dua kali makan, itupun kadang tak berupa nasi lengkap dengan lauknya. Tapi bagaimanapun, seorang pencuri tetaplah seorang pencuri. hina!

..

Dan beberapa hari setelah lebaran, saya tiba-tiba sangat ingin menengok rumah beliau, yang sekaligus juga mantan kos saya.  Ya sekalian nostalgia dan silaturahmi di sekolah yang tak banyak berubah.

Sore hari, sepulang dari kunjungan ke rumah guru dan karyawan sekolah, saya pun mampir ke rumah paman Leman, di sebuah jalan kecil yang berjarak sekitar 400 meter dari sekolah.

Sedikit kebingungan, karena keadaannya sudah berubah banyak, tiba-tiba ada musholla berdiri di dekat kos saya dulu, sementara bangunan kayu yang terpatri di ingatan saya, sudah tidak ada lagi.

Saya pun bertanya, pada orang yang ada di sekitar situ, dan saya pun terhenyak.

Beliau, paman Leman, bapak kos saya, katanya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, karena kecelakaan saat berdagang ikan yang merupakan mata pencaharian utama beliau.  Dan istri beliau, Acil menyusul beberapa tahun setelahnya 😦

Saya menyesal, dulu beberapa kali lewat jalan kecil itu, tapi tak sempat mampir kesitu.  Seperti sombong sekali saya ini 😦

Walau akhirya saya bertemu dengan putera beliau, yang dulu sering iseng kejar-kejaran dengan anak kos, lalu pernah iseng mengotori baju putih saya dengan tangannya yang kotor, sesaat sebelum acara pelepasan kelulusan 🙂  Arul, anak beliau itu jelaslah sudah besar, sudah beristri dan punya anak satu.

Saya pun mengutarakan niat saya, yang tak kesampaian, untuk berjumpa dan bercerita apapun dengan orangtuanya.  Tapi, sebentar saja saya pamit pulang, sambil memberikan beras yang sudah disiapkan dari rumah, yang diniatkan untuk mengganti sisa nasi yang pernah diambil diam-diam saat hari menjelang malam.

Arul berterimakasih, saya sedih tak bisa berkisah lebih.
karena kalaupun saya ceritakan kembali, dia yang dulu itu belum sekolah tentulah tak tahu kejadian itu, saat saya terpaksa menjadi pencuri di rumahnya.

Advertisements

One thought on “Anak Kos Pencuri Nasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s