ke Magelang

Karena di ajak om Ferdian, maka saya pun ikutan, ke Magelang minggu pagi kemarin untuk menyambut kawan-kawan dari grup Sepeda Vintage Retro Classic Indonesia yang katanya akan bertolak dari Ungaran, sekaligus nengok acara Tour de Borobudur yang akan melewati kota itu.

Seperti sebelum-sebelumnya,  salah satu faktor yang menarik untuk saya sepedaan yang jaraknya lumayan itu adalah rute yang belum pernah saya jalani.  Kebetulan saya belum pernah nggowes ke Magelang, terakhir sabtu kemarin cuma sampai Muntilan sebelum nanjak ke Ketep dan Selo.

Menunggu di perempatan Denggung dengan om Fer, akhirnya bertemu dengan pemilik sepeda vintage lainnya : Antok, Greg, mas Ari Mukti, om Friso, om Adi Wijaya, mas Dony, pak Kelik, total rombongan berjumlah sepuluh orang.  Sepeda-sepeda mereka keren-keren euy, ada Bianchi, Specialized, Bridgestone, Kona, Park Pre, Miyata, Ridge Deer , Federal Tomhawk, Mt. Everest yang masih ori.  Rasanya Rivera Terrain saya saja yang sungguh tak sebanding dengan punya mereka haha.  Dan harga sepeda mereka itu saya tau, jutaan euy, malah ada yang saking cintanya dengan sepeda vintage, nitip minta belikan adiknya di Belanda untuk dibawa langsung ke Indonesia dengan harga beberapa euro, 250 atau 2500 euro persisnya saya lupa.

Sepeda vintage,  yang kebanyakan mtb lama, penggemarnya memang tak sedikit, terlebih dikarenakan sepeda tahun 90-an memang terbukti tangguh dan framenya juga keren.  Yang jelas sudah teruji untuk bersepeda di perjalanan jauh.

Menggowes dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam dengan kontur jalan yang landai menanjak, cukup membuat saya kewalahan, mantep sekali power para pesepeda yang lain.  Untungnya masih bisa mengekor dari belakang, menyusuri jalan raya hingga akhirnya sampai di Mungkin untuk mampir sarapan Soto Senerek.  Setelah itu menunggu rombongan dari Ungaran datang di depan Akademi Militer, Magelang yang selama ini cuma pernah saya dengar dan baca namanya.  Ternyata luas sekali euy sekolahannya pak SBY dulu itu.

Menunggu di dekat gerbang Akmil sambil menonton para peserta Tour de Borobudur lewat, yang kebanyakan memakai roadbike, jadinya semuanya ngebut saat melintas.

Cukup lama menunggu akhirnya malah balik arah lagi karena para tamu yang berjumlah 5 orang menunggu deket perempatan Artos, baru nyadar kalo jalan menuju perempatan itu melewati kantor Walikota Magelang yang menurutku arsitekturnya mirip mesjid 😀

Tak terasa sudah tengah hari, perjalanan diteruskan dengan rute sebaliknya, menuju Jogja, cuaca sedang rajin pula panasnya.  Apalagi cuma pake jersey lengan pendek, gosong bro 😀  .  Akhirnya di pertengahan perjalanan mampir di warung es campur.  Eh disitu dikasih mas Adi kalau tak salah nama beliau, sunblock alias sunscreen supaya kulit tak gosong-gosong amat hehe.  Haduh seumur-umur baru kali ini make ginian, rasanya modern sekali sepedaan kali ini :mrgreen:

Sesampainya di perempatan Denggung/Salam, berbelok ke utara menuju Jl. Kaliurang, katanya mau makan siang di Tengkleng Gajah, nah apa pula itu?  Baru tahu ada  makanan enak di sekitar Kaliurang Km. 9 itu, duh nantilah kalau honey dan anak-anak ngumpul kesini lagi sepertinya wajib di ajak kesitu.  Penggemar daging kambing wajib mampir kesini kalo ke Jogja bro, yang kuah maupun yang goreng bener-bener enak maksimal.

Tak terasa sudah jam 4 sore lebih,  sudah kenyang lanjut mampir ke rumah om Fer, sang kolektor sepeda mtb lama yang langka.  Jadilah semuanya rame-rame melototin koleksi sang doker gigi itu.  Sepeda-sepedanya dikeluarin dan dipajang di halaman rumput.  Ohya rumah om Fer ini juga bisa dijadikan referensi rumah yang sangat nyaman menurut saya.  Nyaris semuanya dari bahan jati bekas rumah orang yang dibeli utuh, kemudian dibongkar pasang dan dibangun ulang, ditambah dengan bagian tumah dan aksesoris yang unik-unik di sekujur kediamannya.  Salah satunya adalah garasi yang dulunya adalah bekas kandang sapi 😀  Mungkin lain kali saya akan posting tentang rumah keren beliau ini.  Pokoknya saya sangat betah kala bertamu kesitu, rasanya sudah tiga kali saya mampir dan bertamu kesitu tanpa malu hehe.

Kembali tak terasa maghrib pun tiba.  Sebagian besar pamit pulang, saya tinggal sebentar bersama mas Dony, numpang sholat maghrib sebelum beranjak pulang.

Mungkin ini juga salah satu perjalanan yang mengesankan, karena banyak bertemu kawan baru, yang biasanya cuma tahu dan kenal di grup pencinta sepeda.  Yang jelas membuat saya malu euy,  nyaris sepanjang jalan dari berangkat sampai pulang saya ditraktir entah oleh siapa, yang jelas pas mau bayar ternyata sudah lunas.  termasuk akua, soto daging senerek (kacang merah), es campur sampai tengkleng yang super enak itu.  Terharu euy, pokoknya siapapun yang membayari saya makan-minum yang semuanya enak itu, semoga dikasih kesehatan dan rejekinya selalu ditambah oleh Allah SWT, amin 🙂

.
mag3
*di depan rumah kerennya om Ferdian, sayanya lagi pipis, jadi gak ikut kepoto #inpondakpenting 😀
*foto oleh om Ari Mukti.

Advertisements

3 thoughts on “ke Magelang

  1. wxrm Post author

    @bagus
    nggak sampe borobudur kok mas, cuma sampe depan akmil doang abis ketemu tamu itu yo puter balik. lah saya juga diajak kok hehe lagian magelang tak sebanding ama banyuwangi-bali mas 😐

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s