tentang Tiwul, Farah Quinn & Jembatan Gantung

Sabtu, 6 September 2014, jam 7 pagi, sesuai janji, memulai perjalanan dari Gejayan, menuju arah Imogiri (mukadimah boros koma).  Sesuai rencana, menuju Mangunan, tempat yang juga terkenal dengan tanjakan legendarisnya.  Walaupun misi sebenarnya adalah menemani master Radith mencoba tiwul ayu yang tak kalah legendarisnya.

Karena waktu mulainya sudah tidak begitu pagi lagi, panas matahari sudah mulai terasa menyengat.  Dan bukannya langsung ke tujuan, malah mampir dulu sarapan di daerah Imogiri, lupa nama warungnya, tapi itu tampaknya sering disinggahi para pesepeda sebelum menjajal tanjakan Mangunan.

Sarapan plus leyeh-leyeh tak terasa sampai pukul 9, tapi karena kadung niat, perjalanan pun dilanjutkan.  Jalan menuju kebun buah Mangunan itu, elevasinya mungkin tak securam Cinomati maupun tanjakan Petir, akan tetapi panjangnya sungguh jahanam, nyaris tak ada jalan yang datar.  Apalagi ditambah pepohonan di kanan kiri jalan yang sangat jarang, ditambah mentari yang mulai meninggi, menjadikan perjalanan sangat aduhai panasnya.

Tapi toh rasanya perjalanan itu terobati setelah sampai di warung kecil berupa joglo di sisi kiri jalan yang bertuliskan Thiwul Ayu Mbok Sum.  Melihat-liat jajanan yang dijual disitu, akhirnya memutuskan untuk mencoba thiwul gula merah sesuai rekomendasi mas Radith.  ternyata sodara-sodara, tiwulnya beda, bisa dibilang luar biasa enak.  Porsinya lumayan besar, cukup untuk berdua.  Akhirnya saya pun membungkus satu untuk dibawa pulang.  Yang suka jajanan enak, tiwul ayu ini sangat direkomendasikan untuk dicoba kalo pas ke Jogja.

Lalu mbak Farah Quinn-nya apakabar?
Obeliau ternyata pernah berkunjung kesitu dalam rangka memasak makanan berbahan dasar tiwul pada acara di tipi, tiga tahun yang lalu kira-kira waktunya.  Saya lupa menanyakan apa yang sebenernya yang di masak mbak farah saat itu, apakah masih disimpen di kulkas mungkin, pengen nyicip gitu lhoh #halagh.  yang jelas ada fotonya di x-banner yang terpajang di belakang rak kaca display tiwul. Hmm rak kaca display tiwul, semacam ejaan baru 😐

Tiwul habis disikat, perjalanan diteruskan lagi ke kebun buah Mangunan, kira-kira tak sampai satu kilometer dari situ.  Tapi cukup mampir di depan gerbangnya, males bayar karcis lima ribu rupiah 😀 Jadinya cuma nanya rute menuju pulang sama satpam.

Nyatanya perjalanan belum berakhir, saya yang penasaran dengan jembatan gantung Selopamioro, akhirnya berhasil membelokkan arah perjalanan ke tempat yang lagi-lagi juga legendaris adanya.

Air sungainya lagi surut, jembatan gantungnya tak semenakutkan yang ada di sungai Martapura karena sangat aman dan goyangannya kurang maut.  Tapi letaknya yang di lembah itu memang keren, sayang saya motonya kurang bagus.  Sementara niat untuk nyebur di sungai yang keliatan jernih menggoda itu diurungkan karena tak bawa celana ganti, padahal sempat terbersit rencana untuk kungkum cuma pake celana dalam saja, tapi takut banyak yang histeris.  Apalagi di bawah sudah banyak anak muda yang nongkrong di tepi sungai.  nanti sajalah mungkin.

IMG_1724

Puas menikmati pemandangan disitu, kemudian pulang, sambil ngobrol tentang paradoks yang saya rasakan, karena jalan yang agak menanjak dari arah sungai menuju jalan aspal hingga ke arah ringroad, tak terasa berat, justru terasa sangat enteng, dan mas Radith juga tampaknya merasakan keganjilan itu, beliau berkali-kali bilang “kok dikayuhnya enteng, ya?“. Begitu.

tak cukup piknik sampai disitu, menjelang ringroad, mampir di warung sate pak Pong yang konon beken dengan sate klathaknya, tapi bukannya mencoba menu andalan itu, kami malah menyantap tongseng yang rasanya yahud !

Akhirnya, tak terasa sudah sore hari, beranjak pulang sambil sekali di jalan mengisengi seorang mas-mas yang pakai sepeda Tsubaki tampaknya tak terima disalip Federal hitam & A-Pro merah di jalan, akhirnya kejar-kejaran iseng sampe kecepatan di atas 30 km/jam di tengah padatnya lalulintas.  Dasar kurang kerjaan !

Sesampai deket Timoho, kemudian memisahkan diri, mas Radith balik ke basecamp, saya muter sebentar ke Malioboro, menemui blogger yang ngaku-ngaku sebagai ponakan yang dateng jauh-jauh dari Bogor demi nostalgia dengan nasi kucing.  Ngobrol sebentar, kemudian maghrib, kemudian pulanglah,  Demikian.

Advertisements

2 thoughts on “tentang Tiwul, Farah Quinn & Jembatan Gantung

  1. didut

    Ngeliat sepeda sampeyan jadi inget 3 hari yang lalu di sebuah jalan raya yang full traffic di jam yang memang sibuk, seorang kantoran pulang kerja pake sepeda. Antara mau ramah lingkungan atau bunuh diri lebih cepat karena paru-parunya full mengisap polusi yang berkeliaran di sekitarnya.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s