dari Jogja ke Banjar, naik motor saja

Dua minggu yang lalu, saya akhirnya melakukan satu hal sederhana yang sejak lama ingin dilakukan, naik motor yang jauhnya lumayan.  Kebetulan beberapa waktu sebelumnya honey minta motornya dikirimin ke Banjar.  Saya pikir-pikir, biaya ngirim motor itu, sama dengan ongkos bawa motor plus sayanya, jika dibawa sendiri naik kapal laut.

Akhirnya, mendadak saya membuat keputusan ingin melakukannya sehabis  sepedaan ke Mangunan, jadi aja sesampai di kos sehabis sepedaan menjelang magrib, mandi trus ngobrol-ngobrol bentar sama penghuni yang lain, lalu packing singkat seadanya.  Cuma bawa ransel kecil, yang isinya laptop, beberapa buku, dan beberapa potong pakaian, belakangan ditambah dengan dua botol akua 600ml, keripik kentang dan roti sepuluhribuan.

Beberapa saat sebelumnya saya sudah gugling, kalau hari minggu siang ada jadwal kapal Kumala ke Banjar, itu nama kapal ro-ro yang biasa melayani trayek Tanjung Perak, Surabaya ke pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.  Intuisi saya juga mengatakan kayaknya gelombang laut pas lagi tenang, jadi tak bakal mengalami badai saat di perjalanan.

Seusai mandi, rapi-rapi, pamitan sekaligus mewanti-wanti jangan memberitahukan perjalanan saya pada honey, selain mau bikin surprais, juga karena takut bikin khawatir, soalnya tiap kali saya mengutarakan niat bawa motor sendiri mesti ndak boleh, “bikin kepikiran aja” katanya.  “malah asik kalo dipikirin” balas saya.  Halagh!

Jam sepuluh malam waktu Sleman, perjalanan dimulai.  Menyusuri jalanan dengan tenang sampai kemudian memasuki kota Solo yang selalu bikin saya khawatir karena jalannya macam labirin yang bikin mumet.  Kekhawatiran saya terbukti, entah bagaimana caranya saya dua kali nyasar, pertama sampai nyasar ke ujung jalan buntu dan dihadang lalu dikejar oleh tiga ekor anjing, yang untungnya belum begitu dewasa, tapi tetep aja anjing :|.  Kali kedua, nyasar ke jalan kecil, gelap, dan ujungnya entah kemana.   Untung setelah tanya sana sini, akhirnya saya bisa kembali ke jalan yang benar.  Alhamdulillah.

Etape pertama, masih mampu menunggangi Supra Fit tahun 2005 itu selama 3 jam nonstop, dikurangi waktu mampir nanya-nanya sih,  mendinginkan pantat yang mulai memanas di sebuah SPBU di sekitar Sragen.  Perjalanan selanjutnya sukses membuat saya mampir nyaris tiap satu jam.

Yang menyenangkan dari perjalanan di malam hari ternyata adalah, udaranya tidak panas, bahkan nyaris membuat menggigil menjelang dinihari.  Kawan seperjalanan hanyalah truk-truk gede, banyak yang gandengan pula, dan karena rata-rata muatan mereka tampaknya penuh, maka tentu tak mungkin ngebut,  jadilah motor bisa dengan leluasa menyalip truk-truk itu dengan damai.

Jalan sehabis Solo yang menyebalkan itu, lebih menyenangkan, karena patokan saya hanyalah rambu-rambu di tiap perempatan, yang tertib saya ikuti.  Pokoknya ada arah panah ke Surabaya ya saya ikutin saja, walau ada beberapa pertigaan yang membuat saya agak ragu dan mengharuskan bertanya dengan orang di pinggir jalan.

Entah lupa di daerah mana, saya menyempatkan tidur setengah jam di musholla sebuah SPBU, bangun saat adzan subuh dan subuhan sebentar sebelum meneruskan perjalanan. Singkat cerita, setelah melewati daerah hutan Mantingan, Caruban, Ngawi, Nganjuk, Kertosono, Jombang lalu Mojokerto, dan Sidoarjo akhirnya pas pagi hari saya sampai juga di kota Surabaya.  Kembali tanya sana sini arah menuju pelabuhan Perak, meskipun saya pernah tinggal selama dua tahun di kota itu, saya tak hapal jalan, soalnya dulu kemana-mana naik angkot alias bemo kalo orang Surabaya bilang.

Sesampai pelabuhan, langsung menuju kantor penjualan tiket kapal Kumala sesuai rencana, dapet tiket untuk motor dan penumpang seharga total Rp. 520.000,- dan dikasih tahu kalao jadwal yang seharusnya jam 11 siang, katanya molor menjadi jam sembilan malam.  Baiklah, motor pun putar balik menuju kota lagi, memutuskan istirahat sebentar di masjid kampus Unair, sekalian nostalgia bentar di kampus.

Eh, honey nelpon: “Lagi dimana?” | “Masjid kampus” | “Tumben, ngapain?” | “Istirahat..”
Pasti saya dikiranya lagi di maskam UGM, padahal bukan, tapi saya kan tidak bohong hehe.

Cukup lama gegoleran di teras masjid, akhirnya memutuskan silaturahmi ke kontrakan putra, temen sekontrakan dulu waktu sama-sama kuliah disitu.  Sampai tak terasa maghrib, memutuskan ke pelabuhan lagi untuk siap-siap berangkat.

Tapi ternyata, jadwal kapalnya PHP, pemberangkatan ditunda jadi esok hari euy.  Jadi aja tidur di pelabuhan yang penuh nyamuk.  Bersabar sampai besok hari, kembali muter-muter kota, ke Karang Menjangan, lalu numpang tidur bentar di asrama KalSel yang ada disitu, menjelang magrib kembali lagi ke pelabuhan, sambil berharap jadwal tak lagi ada penundaan.

Akhirnya, motor boleh masuk kapal, sayanya juga masuk kapal, parkir di dek paling bawah, saya naik ke atas, ke dek paling atas deket musholla, menunggu truk-truk masuk perut kapal yang akhirnya berangkat juga jam 10 malam.  Soal pengalaman di atas kapal, nantilah diceritakan di bagian tesendiri.

Yang jelas perhitungan saya salah, saya pikir cuma 20 jam akan sampai pelabuhan Trisakti, ternyata tidak, persis 24 jam baru kapal bersandar di pelabuhan.  Saya langsung saja memacu motor tak sabar, pulang menuju rumah yang jaraknya kurang lebih 40 km dari pelabuhan.

Dan endingnya tak menarik, tak ada surprais, gara-gara kapal delay, honey curiga karena pas ditanya selalu kawabnya lagi di jalan, terakhir tentu saja selama nyaris 24 jam saat di kapal, handphone tak bisa hidup, karena sinyal belum tersedia di kapal ro-ro.  Jadi aja nanya-nanya sama temen satu kontrakan, dikasi tau lah tentang perjalanan saya. Hedeh sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s