tentang Sepeda #1 : Intro

Ini adalah sebuah rangkaian catatan yang lumayan panjang. Yang dimulai dengan satu pertanyaan:

Apakah gear tertinggi dan kekuatan mengayuh maksimal akan mengantarkanmu lebih cepat sampai tujuan?
Jawabannya adalah tidak. Sama sekali tidak.

Karena ini bukan soal soal kecepatan dan kekuatan, tapi lebih pada perhitungan.

Justru aku harus menggunakan rasio gear tengah bahkan yang terendah untuk mencapainya, aku harus bersabar menahan diri untuk mempertahankan kestabilan rasio, diperlukan kerendahan hati untuk mewujudkannya.

Ini bukan tentang menaklukkan sebuah perjalanan, tapi lebih pada penaklukan diri sendiri. Aku harus memperhitungkan tujuan, mengukur perkiraan jarak dan keterbatasan kekuatan, dan segala kemungkinan yang mungkin terjadi di perjalanan, sesuatu yang jarang dilakukan oleh aku yang sering hanya bermodalkan nekat dan spontanitas tanpa perhitungan.

Bagiku, tujuan memang penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana cara untuk mencapai tujuan itu. Dan aku perlu waktu dan perenungan yang tak sebentar saat mempelajarinya, dengan sederhana, juga beberapa kawan sebagai gurunya. Paling tidak itu berdasarkan lima tahap perjalanan yang sejauh ini telah aku lakukan.

Tahap pertama

Aku masih ingat, saat perjalanan bersepeda pertama yang lumayan jauh, menurut ukuranku. Dulu sekitar dua puluh tahun yang lalu, dari kos sampai tujuan, dua puluh kilometer lebih. Saat itu, aku hanya bermodalkan keyakinan, belum pakai ilmu. Sepeda single gear dengan roda 24” hasil pinjem punya sepupu, hanya didorong keinginan melankolis beraroma gejolak darah muda: mengapeli pacar di sekolahnya. Entah bagaimana caranya akhirnya bisa sampai juga. Jangan tanya soal ritme perjalanan dan kondisi sepeda yang aku pakai, aku sama sekali tak mengerti. Yang penting gowes sekuatnya sampai tujuan, walau harus berkali-kali singgah mengatur napas.

Tahap kedua.

Perjalanan agak jauh kedua, menuju Pakem, destinasi para pesepeda tiap minggu di Jogja, tiga belas kilometer dari kontrakan sekarang. Tapi perjalanan ke arah Merapi jelas relatif menanjak, perlu beberapa kali perjalanan sampai aku bisa mencapainya. Tubuhku yang di kampung halaman terbiasa dengan jalan yang konturnya relatif datar, terkaget-kaget sendiri dengan kontur jalanan yang berbeda jauh.

Percobaan pertama ke arah Pakem rasanya mungkin hanya berhasil sekitar setengah perjalanan, terengah-engah maksimal karena tak bisa memanfaatkan rasio gear yang digunakan, ditambah perasaan ingin selalu cepat-cepat melewati tanjakan yang padahal berujung pada awal tanjakan berikutnya lagi, sehingga sangat menguras tenaga. Saking putus asanya, karena bersepeda di awal hari, warung belum ada yang buka, sementara lupa membawa air minum, akhirnya nekat menghirup air di selokan depan rumah orang yang aku pikir jernih dan aman, keputusan yang konyol.

Percobaan kedua, menetapkan target sampai UII, yang padahal sudah di titik dua kilometer sebelum Pakem. Tapi pelan-pelan berhasil sampai disitu, tentu kali itu tak lupa membawa botol berisi air minum J. Dan akhirnya baru pada percobaan ketiga berhasil mencapai titik warung ijo.

Pada tahap ini aku juga belum ‘ngeh’ dengan pentingnya part sepeda sebagai sistem pendukung sebuah perjalanan, hanya menjajal sekuat tenaga apa yang sudah menempel disepeda. Mtb lama tanpa merk dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari yang seharusnya aku pakai dengan nyaman.

Tahap ketiga

Adalah saat suatu pagi memutuskan untuk mencapai wilayah Kaliurang, tujuh kilometer lagi dari Pakem, dengan kontur yang lebih menanjak lagi dari tahap kedua. Perlu dua kali mencoba baru bisa sampai ke titik tujuan. Dan tambahan beberapa percobaan lagi hingga mendapat pelajaran berharga.

Percobaan pertama kehabisan nafas, tenaga dan keyakinan setelah tanjakan yang terasa menyiksa, dan akhirnya berakhir di depan kantor kepala desa Hargobinangun. Kira-kira baru setengah perjalanan, itupun setelah berkali-kali singgah mengatur nafas, meyakinkan diri untuk terus sampai akhirnya memutuskan menyerah, putar balik dan mencobanya lagi lain waktu.

Percobaan kedua, akhirnya bisa sampai tugu Kaliurang, sampai Tlogo Putri. Walaupun, saat itu masih ada aroma kesombongan yang dirasakan, merasa cukup kuat sampai di atas, walaupun kembali berkali-kali dipaksa berhenti mengambil nafas di pinggir jalan. Mengira diri cukup kuat dengan menggunakan pilihan gear crank tengah, 38 dan gear belakang tak sampai mentok habis, tetap bertahan di 24. Iya tujuan didapat, tapi energi habis sehabis-habisnya.

Perjalanan ke Kaliurang selanjutnya, tak disengaja. Mengamati teman yang mengayuh sepedanya dengan santai, cenderung pelan tapi stabil. Jauh sekali dengan ritme kayuhan saya yang cenderung asal-asalan, napsu pengen cepet sampai dan tak memperhitungkan cadangan kekuatan yang ada. Ditambah beberapa malam sebelumnya mencuri dengar tentang sebuah kata asing bernama ‘cadence’ dari seorang tua yang sering melakukan perjalanan jauh dengan sepedanya.

Akhirnya sampai juga kembali di tugu Kaliurang, tanpa terengah-engah yang berlebihan, sudah lumayan bisa mengatur napas hingga tak perlu berkali-kali singgah lagi manghabiskan persediaan air J Kali ini sepeda yang digunakan tetap mtb lama, federal 16” yang ukurannya dirasa pas dengan ukuran tubuh.

Tahap keempat.

Perjalanan lumayan jauh dari Jogja ke Solo, dengan jalan yang relatif datar dan membosankan, serta panas. Lagi-lagi menguras kesabaran tak tanpa sadar mengayuh dengan kecepatan sekuat yang aku bisa, kala itu menggunaka, crank dengan chainring tertinggi: 48. Untung saat itu berdua dengan mas Bagus, yang lalu menegur dan menyarankan untuk menurunkan gear, dan menstabilkan kecepatan. Beliau tanpa sengaja mengajarkan dan menegaskan kembali tentang pentingnya cadence, pentingnya kenyamanan dalam bersepeda, dan sangat pentingnya kestabilan dan pengaturan tenaga di perjalanan.

“kalau benar-benar memaksakan diri tanpa perhitungan, takutnya malah jadi kram di jalan” Itu sepenggal pesan yang berhasil aku tangkap. Intinya tujuan tak sampai , justru cidera yang bakal didapat.

Aku pun nurut, dan tujuh puluh kilometer hari itu, ajaibnya bisa dilalui. Dengan kondisi nafas yang longgar, badan tak terlalu capek dan tenaga masih cukup untuk bahkan memutari kota Solo mencari rumah seorang kawan.

 

Tahap kelima

Perjalanan terjauh sampai saat ini, kira-kira dua minggu yang lalu ke Tawangmangu. Kira-kira seratus tiga belas kilometer dari rumah di Jogja. Dua hari pulang pergi, jadi total perjalanan duaratus kilometer lebih.

Kali ini dengan sepeda yang partnya sudah diupgrade sesuai keperluan, sesuai dengan tenagaku yang disadari tak sekuat teman-teman lain yang kekuatan dan kecakapan bersepeda jarak jauhnya sudah tak terbantahkan. Untuk mengimbanginya, perubahan pada beberapa part dirasa sangar mendasar dan perlu.

Bagian sepeda yang ditingkatkan adalah yang utama pada bagian-bagian yang berputar. Gear ditambah jadi 8 speed, crank depan sudah diganti dengan chainring yang jumlah teethnya lebih sedikit dibanding yang lama, kali ini kalau tidak salah dengan 44-32-22 dan dengan sistem octalink. Pedal cleat m505 yang menambah ringan kayuhan, dapat beli bekas karenanya tanpa sepatu pasangannya, hanya menikmati keloncerannya.

Ditambah dengan hasil mempelajari kemampuan diri sendiri saat bersepeda, rasio gear yang dirasa nyaman, posisi sadel dan handlebar yang dikira-kira nyaman dengan badan. Mempelajari shifting dan kaitannya dengan kondisi kaki kala pedalling.

 

—-

Akhir kata, bagiku: perjalanan bersepeda, bukanlah sekedar pembelajaran untuk menaklukkan jarak yang ditempuh untuk mencapai tujuan, tapi lebih pada penaklukkan diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s