The Last Lap

Pertama.

Kemarin, akhirnya ikutan funbike.  Sehari sebelumnya kucing putihnya honey itu sudah dicek, dites dikit, ok.  Kemudian tools disiapkan, bottlecage dipasang.

Karena sudah janjian mau bareng seorang teman, ditambah dengan jarak antara rumah ke starting point yang sekitar 10 km, maka sebelum jam enam sudah mulai menyusuri jalanan yang masih diselimuti kabut asap tipis 😐

Mendekati garis start, sudah banyak sepeda bermacam jenis yang sudah datang duluan, memenuhi jalan, konon mencapai tujuh ribuan sepeda sepagi itu yang ikutan.  Saat start, karena penuhnya jalan, nyaris seperti acara jalan santai, susah ngegowesnya 😀

Rute sepanjang 10 kilometer tak terasa, karena ramai, ditambah dengan jalan yang relatif datar dan mudah dilalui, bahkan sepeda apapun, dari BMX sampai onthel pun terlihat asik, kecuali di beberapa titik yang sedikit nanjak, ada beberapa orang yang terpaksa menuntun sepedanya, mungkin cuma karena tak terbiasa saja.

Saya, karena tak ingin dikurung kerumunan sepeda di tengah-tengah, memutuskan untuk sedikit melaju menuju arah depan, sampai tak sadar meninggalkan teman yang padahal pagi-pagi sudah dijemput dirumahnya, duh contoh yang tak baik.

Semakin ke depan barisan, semakin nyaman sepeda dikayuh karena jalanan tentu tak sepadat di belakang yang masih umpel-umpelan.  Akhirnya terpancing untuk sedikit sombong, memacu kecepatan sedikit tinggi, terutama di turunan hehe.

Makin ke depan (ini lama-lama kalimatnya nyaris seperti iklan motor euy), semakin terpacu hasrat untuk yang terdepan.  Terlebih melihat ada pesepeda yang juga memacu sepedanya, hasrat untuk menyalip pun semakin membara.

Dua kilometer mendekati finish, sedikit tanjakan menghadang.  Bukannya berusaha stabil, malah menaikkan gear crank, tapi anehnya sedikit macet, tuas shifter pun kembali dipaksa ditarik. Dan.. rantai pun lepas.  Rasakan !

Beberapa menit akhirnya dihabiskan untuk membenahi rantai, dapat bonus jemari tangan yang belepotan hitam tentu.

.

Kedua.

Tadi malam, nonton balap MotoGP di televisi.  Nontonnya pun menjelang putaran akhir, sedikit bingung karena sosok bintang iklan motor bernomor 46 tumben tak terlihat.  Ternyata di list pembalap ada di urutan terakhir, dengan keterangan out. Lhah?

Setelah beberapa menit mengamati, barulah nyadar kalau kondisi sirkuit ternyata basah akibat hujan.  Saat itu posisi 8 putaran menjelang finish.  Posisi terdepan oleh Marquez yang melaju tanpa ada perlawanan berarti.

Belakangan, setelah balapan usai, berdasarkan informasi dari komentator, baru saya tahu kalau perubahan cuaca terjadi mendadak saat putaran terakhir, dan Marquez ternyata bandel, tak memenuhi saran tim pendukungnya untuk mengganti motor dengan ban khusus trek basah.

Memasuki 3 putaran sebelum akhir.  Akhirnya yang dikhawatirkan pun terjadi, the baby alien terjungkal akibat bannya slip.  Walau meneruskan pertandingan, tetap saja tertinggal, turun drastis di urutan belasan.

Sementara itu, Lorenzo yang stabil, akhirnya tiba di urutan terdepan di garis finish.

.

Terkadang, percaya diri memang beda tipis dengan sombong.
Terlalu sampai tujuan yang sudah dibayangkan diawal, seakan-akan diri sendiri penentu sebuah keinginan.

Seperti di atas, faktor cuaca yang berubah mendadak di sirkuit, faktor rantai yang tiba-tiba loss, siapa yang tahu?  Hal-hal itu yang kadang dikesampingkan oleh manusia, berwujud saya.

Selalu siap akan segala sesuatu, memang masih kalimat yang bijak untuk menyikapi hidup, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s