Merendah untuk Meninggi

Entah berapa kali sudah, saya menonton film ketika cinta bertasbih 2, dan entah berapa kali pula, saya langsung memforwardnya, hingga sampai pada scene, dimana Azzam diminta memberikan uraian tentang kitab Al Hikam karya Ibnu Athaillah.  Bagian yang disampaikan disitu adalah:

Barang siapa yang merasa dirinya tawadhu’ maka sebenarnya dia adalah orang yang sombong, sebab tidaklah ada tawadhu’ melainkan dirinya sendiri merasa tinggi. Apabila ada rasa tawadhu’ dalam jiwamu, maka engkau adalah orang yang benar- benar sombong.

.

Tawadhu adalah perasaan merendah, rendah hati, lebih rendah dibanding orang lain, antitesis dari sombong.  Tapi perasaan rendah hati bisa berbalik menjadi sombong. Secara tersamar, perasaan itu diam-diam malah membuat diri merasa lebih dari orang lain.  Mumet, ya?  Mungkin penjelasan disana lebih runut.

.

Beberapa waktu yang lalu, tampaknya saya bakal mendapatkan sebuah buku yang bagus, terlebih melihat cerita di balik pembuatannya.  Di sampul buku itu tertulis pesan, dari penulisnya : ‘untuk om warm, yang selalu merendah untuk ditinggikan’.

Saya tahu, beliau itu bercanda hehe.  Tapi tak pelak seperti meninju bahu saya, membuat kaki saya melangkah menuju cermin, berkaca sejenak, kemudian melontarkan pertanyaan pada diri sendiri.  Benarkah begitu?

Mungkin tanpa disadari beberapa kali saya suka begitu, tapi tak serius tentu saja.  Kenyataan sebenarnya, apalagi sekarang ini, duh!.  Untuk menulis sesuatu, walaupun menyukainya, saya sampai saat ini, masih juga belum berkembang, tentu jauh dengan orang yang sudah menerbitkan buku.  Padahal sudah tahu setan penyebabnya adalah malas dan terlalu tidak disiplin.

Apalagi dengan hal yang lain.  Hal yang paling mendasar: ilmu.  Masih sangat bodoh sekali, buktinya sekolah saja belum selesai *ini bukan curcol euy, iya deh dikit hehe*.  Padahal lagi-lagi sudah tahu iblis penyebabnya sama dengan di atas.  Herannya masih saja tak mau belajar dari waktu yang sudah lewat. Bukankah ini justru membuktikan bahwa saya justru lagi berada di titik paling rendah.

Karena itu, jika saya bilang seseorang bagus dalam satu hal, memang demikianlah adanya.
Dan jika saya bilang harus belajar dengan seseorang, dengan apapun tentang sesuatu, itu benar adanya.   Belajar menulis, belajar untuk bersabar, belajar untuk belajar lagi, belajar untuk lebih baik lagi.

.

.

p.s.
Sebenarnya saya malu posting tentang ini, entah kenapa. Tapi tak apalah, hitung-hitung mengejek diri sendiri, sesekali

Advertisements

2 thoughts on “Merendah untuk Meninggi

  1. Elia Bintang

    Kalo bagi saya, triknya itu meninggi tapi tetap terasa wajar dan enak hehe…. Salah satu alesannya, misalnya kita lagi gak percaya diri, tapi tetep bicara dengan percaya diri, lama-lama kita jadi percaya diri beneran.

    Btw, Pantai Kupu-kupu itu banyak sensor dan permintaan ini-itu sebenernya, jadi agak beda sama naskah aslinya. Soalnya penerbit saya kan spesialis teenlit, jadi ya dibikin lah sedemikian rupa jadi teenlit. Mudah-mudahan Om Warm gak masalah baca teenlit 😛

    Like

    Reply
    1. wxrm Post author

      itulah repotnya, saya tak terbiasa begitu, kecuali kalo memang lagi iseng, karena menurut opini konyol temen saya ya gitu, kalo daripada merendahkan diri meninggikan kualiti, mending sombong sekalian haha

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s