ketakutan tak beralasan

rasanya sejak dulu, sejak kecil, entah kenapa saya punya ketakutan yang sama sekali tak beralasan.  Bukan lagi berbentuk rasa malu, tapi takut yang aneh.

Percayalah, waktu sekolah menengah pertama, saya tak berani masuk kantor guru.  Rasanya auranya seram dan tak bersahabat, baru kelas tiga saya berani memasukinya, itupun awalnya karena terpaksa diminta mengambil buku teks kala pelajaran bahasa Inggris, saya lupa alasannya kenapa harus saya yang mengambilnya di kantor guru.  Kami waktu itu tak diwajibkan membeli buku pelajaran bahasa Inggris, cuma dipinjamkan waktu jam pelajaran berlangsung, dan dikembalikan lagi saat sudah selesai.  Rasanya tugas saya kembali untuk mengembalikannya lagi ke kantor.  *ini kenapa bercerita tentang siswa yang tak punya buku teks sih*.

Jauh sebelum itu, waktu sekolah dasar.  Saya dan rasanya banyak teman, sangat takut diminta maju ke depan kelas.  Bahkan kala siminta menyanyikan lagu wajib di pelajaran kesenian.  Rasanya saya pernah bercerita, kalau ibu guru terpaksa meminta dua orang teman menemani di depan kelas, setelah satu teman lainnya juga hanya bisa termangu di depan kelas, takut dan ragu-ragu.  Baru saat lengkap bertiga, lantang menyanyikan lagu yang sebenarnya diharamkan untuk dinyanyikan, saking sering dan bosannya diperdengarkan: garuda pancasila!

Waktu sekolah pun, muncul rasa takut lainnya, yang tak kalah absurd.  Saya takut menyatakan perasaan pada  gadis pujaan, sungguh tidak lelaki sekali, semoga anak-anak saya tidak seperti abahnya haha.  Padahal simpel saja kan, nyatakan saja, soal ditolak itu urusan belakangan, toh bisa maju lagi 😀  Tapi entahlah, perempuan yang manis, justru tampak menakutkan rasanya saat didekati.

Seringkali, sekarangpun saya berpikir.  Untuk apa sebenarnya rasa takut yang tak beralasan itu ada, kenapa pula muncul begitu saja?

Terakhir, rasa takut yang konyol itu kembali muncul, saat sepupu saya mau meminjam sepeda hitam saya.  Saya takut terjadi apa-apa dengannya. –nya di sini adalah sepeda, bukan sepupu saya.  Soal sepeda saja, kenapa bisa begitu egoisnya haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s