sebuah overture

katanya buku setebal 192 halaman yang bersampul hitam itu ceritanya bagus, direkomendasikan kemudian dikirimkan dengan ringan oleh sahabat saya, kimi.  terimakasih.

ada tiga bagian utama, paling tidak, yang menjadi benang merah dalam cerita ini, yatu:  halaman pertama yang merupakan kunci dari semua jalan cerita, catatan-catatan harian dari salah seorang tokohnya dan  konflik antara Kei yang mahasiswi semester akhir, Adam yang psikolog, Rena yang supermodel, Raka yang fotografer dan puteranya yang kurang kasih sayang & perhatian.

bayangkan saja, tiba-tiba, dengan alasan yang absurd, seorang ibu tanpa alasan yang jelas, meninggalkan putera & suaminya begitu saja.  Iya begitu saja.  Ajaibnya lelakinya terus menunggu kedatangannya, terus dengan keyakinannya, sementara di sisi lain, harus menjadi orangtua tunggal tanpa persiapan.  Kemudian datang sosok mungil yang membuat hari-hari lebih baik, disamping seorang sahabat yang terperangkap dalam kebodohan frasa: cinta bertepuk sebelah tangan.

seperti judulnya, membaca novel ini seperti mendengar musik klasik yang ringan, yang nyaman didengar sampai terkantuk-kantuk sendirian, kemudian memimpikan semua pemain utama dalam kisah itu menemukan jalannya masing-masing.  Membaca ceritanya adalah lilitan puisi yang menyembunyikan teori psikologi kental di dalamnya, nyaris tak kentara.  Tak heran membaca latar belakang penulisnya yang sangat paham akan hal itu.  Dan beberapa bagian sungguh membuat saya harus belajar lagi tentang isi pikiran seorang anak, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan, tanpa sama sekali merasa digurui.

mungkin kalau yang terasa sedikit mengganggu, adalah ilustrasi di dalamnya, yang merusak bayangan saya akan sosok tokoh di dalamnya haha.  Juga satu bagian-yang kalau tak salah baca-Kei yang menurut ibunya  sudah lulus kuliah, tapi ternyata masih menggarap tugas akhirnya.  Entahlah apa saya yang salah, nanti lah dibaca lagi.

demikian ulasan singkatnya, saya yakin penulisnya tak akan cuma berhenti di overture, tapi akan beranjak menuju bagian selanjutnya: concerto.

Advertisements

2 thoughts on “sebuah overture

  1. Kimi

    Wah, sudah ditulis riviunya! Aku sendiri belum nulis. Ih, jadi malu. Hihihi…

    Btw, baca Overture ini aku paling sebal sama Rena. Segitu absurdnya (dan tentu saja egois) meninggalkan keluarganya demi mengejar kebahagiaan pribadi. Kalau dari awal dia tahu, dia gak bisa bahagia dengan pernikahan dan anak, ya jangan menikah dan jangan punya anak. Terus, yang bikin bete-nya lagi, ada yang selingkuh! HIH!

    Like

    Reply
  2. wxrm Post author

    @Kimi
    absurd memang, pergi tanpa alasan yg jelas. tapi ya orang seperti itu nyatanya emang ada di dunia ini 😀 dan ini knp bikin spoiler disini eh? haha

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s