jangan rese kala menunggu panggilan

..pak RW, tiba-tiba saja datang tanpa terdeteksi.  Maksudnya datang kembali dari tanah suci, bersama istri.  Soalnya tidak seperti kebiasaan di kampung saya, kepulangan haji biasanya disambut keluarga & tetangga dengan haru.  Tapi beliau rupanya tidak .

Tadi malam, akhirnya sowan ke rumah beliau, setelah melihat tetangga silih berganti datang mengucapkan selamat datang kembali pada beliau.  Saya pun bertamu bersama satu kawan kos, mendengarkan cerita saat di Mekkah, yang saya simpulkan banyak diberi kemudahan selama disitu.  Alhamdulillah.

Di sela-sela cerita-cerita.  Saya malah asik membuat sub cerita dengan kawan saya itu.  Tentang bagaimana antrian naik haji yang sekarang sudah mencapai belasan tahun  (antrian yang memanjang ini saya duga akibat munculnya sistem dana talangan haji, yang memudahkan untuk orang mendaftar haji dengan cara mencicil).

Sedikit terselip nada khawatir akan lamanya panggilan ke tanah suci.

Ibadah haji ini memang unik, tak seperti ke empat rukun islam lainnya.  Satu-satunya yang menambahkan syarat di ujungnya: jika mampu.  Dan seringkali orang menyebutnya panggilan, jiwa dan fisik kita baru akan sampai kesitu jika sudah dipanggil-Nya.  Mungkin itu juga yang seringkali menyebabkan orang-orang yang berangkat kesana seperti sudah siap sedia untuk dipanggilnya meninggalkan dunia ini.

Kata ‘dipanggil’ ini menurut saya sih simpel sekali.
Ibarat melamar sebuah pekerjaan, yang sangat diinginkan.  Tentunya memerlukan tahap lamaran, verifikasi, segala macam tes tertulis, psikotes, interview dan segala macam syarat lainnya, kemudian kita pun harus sabar menunggu panggilan datang.  Dan kemungkinan lamaran ditolak pun pasti ada, karena syarat yang dianggap kurang mencukupi.

Karena ini adalah ibadah puncak dari kelima mata rantai rukun Islam.  Anggaplah ke empat rukun sebelumnya adalah syarat, ditambah dengan enam rukun iman yang harus dipegang.  Setelah itu, tinggal menunggu saja.

Masalah waktu disini menjadi anomali, absurd atau apalah, yang jelas sangat tidak terikat dengan aturan dunia.

Kalau secara wajar tinggal mendaftar haji, menunggu antrian, kemudian menunggu waktu keberangkatan, itu cara yang biasa, dan dilakukan oleh orang yang mampu, secara finansial dan fisik.

Tapi nyatanya, tidak terbilang orang yang bisa beribadah haji, melampaui semua aturan dunia.  Mungkin jika pernah menonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji, itu salah satunya, karena saya tahu itu diangkat dari cerita nyata.  Rasanya tidak logis, hasil tabungannya berjualan bubur, bisa memberangkatkan keluarganya sekaligus.  Tapi niat tulusnya untuk meluluskan niat ibadah ibu beliau, merobek tatanan logika dunia.

Ini tentang ibadah, tak cuma soal daftar pelesiran dan sekedar menunaikan kewajiban.  Tapi ujian yang sejak lama saya anggap sangat mengerikan, karena konon semua dosa bakal diperlihatkan dan dibalas langsung saat disana.  Saya yang sadar diri kebanyakan dosa ini apa tidak merinding jadinya 😐

Makanya seringkali saya suka bingung, dengan kebingungan orang akan pertanyaan : kapan ya saya dipanggil kesana?

Yang namanya dipanggil tentu jawabannya hanya satu : menunggu.

Hanya, bagaimana waktu panggilan itu bisa dipersingkat dan menerbitkan senyum bahagia, itu yang hanya sebagian kecil orang tahu caranya.  Mungkin sebagian kecil orang tidak tahu karena bertanya waktu pada manusia, bukan pada-Nya.

Itu saja kok, sesimpel itu.
Menurut saya 🙂

Advertisements

One thought on “jangan rese kala menunggu panggilan

  1. Elia Bintang

    Berarti suatu hari nanti saya gak akan manggil Om Warm lagi, tapi Haji Ridwan hehehe…. Nanti kalo abis pulang haji, saya samperin, Om, pengen denger cerita-cerita selama di sana 🙂

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s