pembunuh berdarah dingin bernama mangunan

Mangunan itu, nama daerah yang terkenal dengan tanjakannya.  Sebenarnya sudah pernah saya tulis singkat disitu.  Tapi tulisan kemarin sedikit terdistraksi dengan Farah Quinn #halagh.

Tanjakan-tanjakan di Jogja itu mungkin bisa saya klasifikasikan menjadi : agak ringan, bikin mikir, dan jahanam.  Nah mangunan ini boleh dimasukan dalam kategori ketiga.

Seperti pemburu berdarah dingin layaknya, yang suka membunuh korbannya pelan-pelan. tak kentara dan dengan tipuan (kok malah jadi seperti pesulap sih).  Jadi, tanjakan yang akan ditemui disitu terlihat biasa dan bisa dilewati dengan mudah, terlihat bersahabat.  Tapi yang ada adalah, tanjakan yang seakan-akan berlapis.

Melihat puncak tanjakan pertama, rasanya lega.  Tapi sesampainya puncak tanjakan, masih ada tanjakan lagi, begitu terus, terus dan panjang seakan tak henti-henti.  Padahal panjang jalannya, dihitung dari pertigaan Imogiri mungkin cuma sekitar tujuh kilometer, yang biasanya saya akhiri dengan memutar di kebun buah mangunan.

Sisi bagusnya, melintasi tanjakan di mangunan itu asik untuk melatih kesabaran dan kewaspadaan.  Terutama untuk shifting.  Walaupun nyatanya saya lebih sering memilih gigi paling rendah demi amannya hehe.

Jadi bagi yang ingin mencoba sensasi dibunuh jalanan pelan-pelan, mangunan sangat saya rekomendasikan.  Kalau masih kurang sensasinya, cobalah kesana agak siangan sedikit.  Insya Allah jadi tambah ilmu bagaimana caranya mengirit air minum dan menanggulangi dehidrasi.  Panasnya bro, lumayan :mrgreen:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s