sepeda menjadikanku pelit

Ada dua sepeda yang aku punya di kos. Satu yang biasa aku pakai, diseting sesuai dengan tubuhku, 9 speed, full upgrade, dan secara berkala dicek kala ada yang terasa kurang nyaman, walau cuma kadang tekanan ban yang kurang.  Tapi yang jelas, biasanya kalau ada sedikit yang terasa tidak pas saat digowes akan terasa.

Satunya lagi adalah sepeda yang bisa dibilang masih standard keadaannya,  masih6 speed, dan dicek seperlunya, kadang-kadang dipakai juga kalau untuk jarak dekat.  Tapi walaupun begitu, keadaanya juga aku perhatikan.  Aku cek sewaktu-waktu kalau ada yang terasa kurang nyaman.

Beberapa waktu yang lalu, saat aku di luar kota.  Salah satu penghuni kos minta ijin untuk memakai sepeda.  Dia pun bertanya sepeda mana yang boleh dipakai.  Aku pun memberi ijin untuk memakai sepeda yang standar.

Tetapi aku cukup terkejut, saat salah seorang kawan, yang hapal dengan sepeda yang biasa aku pakai, memberitahuku bertemu dengan peminjam sepedaku.  Dan dia memakai sepeda yang 9 speed, bukan sepeda yang aku beri ijin untuk dipakainya *mbulet*

Beberapa waktu kemudian, saat aku bertanya ritmenya bersepeda, terutama saat ditanjakan.  Aku menyimpulkan walaupun mungkin tenaganya cukup, tapi belum memiliki ritme kayuhan yang stabil, dan entahlah bagaimana rasio gear yang dipakai untuk itu.

Di lain waktu, aku mengamati sepeda standard berwarna kuning biru yang boleh aku pinjamkan itu.  Sengaja aku biarkan bagaimana cara dia memakai & merawatnya.  Ternyata, bahkan tekanan ban saja tidak diperhatikan.  Tampaknya tidak ada usaha sekedar memompa ban yang agak kempes.  Alih-alih memperhatikan kondisi sepeda, kemari malah minta ijin untuk mencat ulang sepeda itu.  Doh!

Itu sepeda, walaupun masih standar, tapi itu sepeda Federal.  Yang cat dan decal-nya masih asli, dan itu mau aku pertahankan, sebagaimana pencinta sepeda vintage lainnya.  Orisinalitas itu penting, semacam seni juga mungkin.  Dan itu tak dihargai pula ? 😐

Aku pikir, sepeda yang biasa saja dicuekin & tidak diperhatikan keadaannya.  Bagaimana kalau aku pinjamkan sepeda yang biasa aku pakai? Hell no, biar saja aku mungkin menjadi pelit.  Hitung-hitung memberi pelajaran bagaimana mencintai & menghargai sepeda sebagaimana mestinya *tsah*

Maksudku, kalau ada yang terasa yang kurang nyaman, ya cari tahu, lalu seting atau perbaiki semampunya.  Masa maunya memakai yang setingannya sudah bagus sekali dan tinggal pakai, lagian setingan tiap orang pasti berbeda, hal itu yang penting untuk dipelajari.

Lagian walaupun keadaannya begitu, masih bisa dipakai nanjak kok, walau harus menemukan ritme kayuhan yang tepat dan sedikit bersabar.  Bersepeda tak hanya soal mengayuh pedal, tapi mempelajari bagaimana agar mencapai tujuan dengan nyaman, menyesuaikan diri sendiri dengan sepeda yang dipakai.

Sekarang ya, walaupun di rumah.  Sepedaku yang keren itu selalu dalam keadaan terkunci.  Hanya aku yang bisa memakainya 😀

Advertisements

2 thoughts on “sepeda menjadikanku pelit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s