kenapa suka memasang tanda larangan

Salah satu yang tidak aku suka adalah, tanda larangan.  Yang rasanya bejibun ada dimana-mana, seperti menganggap aku tidak tahu akan keserbatidakbolehan dan bodoh sehingga diberi tanda larangan dimana-mana.  Seakan-akan tahu kalau aku suka melanggarnya sesekali 😀

Tapi, sungguh.  Awal di kos ini aku merasa tak nyaman dengan kertas hvs bertuliskan: dilarang naro ember disini, nanti bocor bla bla bla” di belakang.  Yang setelah aku lihat, toh ternyata ember tak merubah keadaan.  Dan tampaknya salah seorang penghuni kos yang menempel tanda larangan itu, dan tampaknya tanpa musyawarah atau pemberitahuan pada yang anggota korps kos-kosan lainnya.  Padahal ya tinggal ngomongin santai aja toh beres.

Kedua.  Kos-kosan sekarang ada pagarnya.  Sebenarnya pagar itu memagari tiga rumah dalam satu lokal.  Jadi ada tiga rumah dan satu pagar *iya om iya*.  Dua rumah penghuninya baru semua, satu masih penghuni lama, iya itu kos-kosan saya, termasuk saya yang penghuni lama, yang belum kelar juga sekolahnya *iya om iya*.

Tiba-tiba ada kertas hvs bertuliskan: mohon tutup lagi pagarnya bla bla bla” tertempel di pagar bagian dalam. Heyaelah apa pula ini.  Aku pikir ini pasti kerjaan penghuni baru, entah yang mana.  Pasti mereka tak tahu sejarah kalau dulu pun pas rumah-rumah disini tak punya pagar semua aman-aman saja.  Dan sepertinya cukup malam saja pagar ditutup rapat, kalau sepanjang pagi dan siang ribet, orangnya banyak dan sering keluar masuk.  Jadi karena aku anggap lebay, kertas peringatan itu aku cabut dan sobek lalu buang di tempat sampah.

Menurutku, kalau ada yang tak sreg.  Panggil semuanya, ngomongin baik-baik.  Sekalian kenalan gitu.  Itu penghuni kos-kosan baru boro-boro kenalan, kadang beberapa liwat menyapa pun tidak.  Tapi aku sendiri belum ngomong baik-baik juga sih, main sobek begitu saja.

Ketiga.  Bagian yang lucu, entah dimana lucunya.   Adalah teras tetangga, yang sekarang juga ada tulisan ditempel di lantai teras, dikasih lakban bening, bertuliskan: batas sandal/sepatu disini”  Hyaelah, penghuninya mahasiswa semua lhoh, maha-siswa, yang daya pikir dan nalarnya tentu sudah lebih maha daripada siswa.  Masih perlu larangan tak perlu macam gituan.  Tak sobek-sobek juga nih *sabar om sabar*

Aku pikir segitunya larangan diperlukan.  Seakan-akan kau adalah penjahat yang tak tahu aturan.  Sehingga papan pengumuman dimana-mana.  Padahal nyatanya, kemarin di pinggir jalan aku lihat: walau ada papan larangan bertuliskan “dilarang buang sampah disini”.  Nyatanya disekitar papan larangan numpuk sampah bertimbun-timbun tak karuan.

Jadi, kau pikir efektif adanya papan larangan, tanpa adanya pengawasan, dari dalam diri sendiri untuk mematuhinya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s