kali ketiga ke cinomati

Kali ini berempat, dengan partner abadi: mas radith yang seperti biasa tak langsung mengiyakan ajakan untuk nanjak kesitu, tapi ujung-ujungnya nanya kepastian. Kemudian mas andi dan revo yang belakangan menyatakan ikut saat ngumpul di angkringan Kumbo[1], jum’at malam pas ada even #JLFR[2]

Besoknya bertemu di depan komplek Balai Kota Jogja, langsung menuju arah timur. Awalnya sih asik-asik lah, walaupun untuk menuju awal tanjakan perlu menempuh jarak sekitar 20 km. Mampir sebentar sekedar minum dan makan pukis yang tiba-tiba saja ada di tangan mas radith yang nyampe paling akhir[3]

Photo1494
Tanjakan pertama masih santai, belokan kedua masih bisa rada santai juga, soalnya aku ingetnya cuma sama tanjakan yang paling curam dan paling panjang yang terakhir kali aku lewati cuma berhasil sampai belokan tajam sebelum kembali menanjak beberapa ratus meter lagi.

Anehnya, mendekati belokan ke tanjakan puncak, yang paling mematikan di antara beberapa tanjakan di sepanjang jalur ini, rasanya aneh, aku jadi deg-degan, jantungku berdetak lebih dari biasanya, aliran darah seperti mengalir lebih deras, kaki rasanya rada lemas, tapi penasaran ingin menjamahnya, seperti fase rasa beberapa detik menjelang bercinta #halagh

Tapi kali ini, setelah berusaha menenangkan diri sebisa mungkin. Akhirnya pelan-pelan berhasil mengikuti lekuk jalan, terus dan berhasil melewati tikungan tajam. Sementara revo stop di tikungan, aku terus maksa sampai kedua kaki terasa terbakar hebat sampai ke paha[4], tapi berusaha ditelan paksa sampai akhirnya berhenti kira-kira seratus meter ke depan, berhenti di titik sepeda A-Pro-nya mas radith duluan parkir.

Tak lama mas andi datang menyusul, revo pun kemudian sampai. Empat orang penuh dedikasi ini akhirnya duduk di aspal sambil menormalkan napas, aku sendiri sempat-sempatnya sejenak mengakrabkan diri dengan alam sekitar[5]

Photo1499
Perjalanan pun diteruskan walau rintik sedikit mulai turun, tapi tanjakan yang kembali menghadang tidak lagi sehebat tanjakan yang barusan dilewati, pelan-pelan semuanya bisa dilalui. Kali ini mas radith sama mas andi memegang pucuk pimpinan sementara di depan. Sementara aku dan revo asik foto-foto di tikungan irung petruk yang merupakan spot kesukaanku di jalur ini.

Photo1512
Sehabis melewati tanjakan usai tikungan berbentuk huruf U itu, rintik pun bermetaformosis menjadi gerimis yang rada dewasa memaksa kami mampir sejenak di teras depan rumah yang sepertinya kosong. Setelah dirasa lumayan reda, melanjutkan perjalanan beberapa kilometer lagi hingga akhirnya warung di depan sebuah sekolah dasar menggoda untuk disinggahi, apalagi menunya sungguh menarik: es jus & gorengan.

Semuanya memesan segelas jus mangga, dan makan gorengan yang banyak. Aku sendiri menghabiskan 5 biji gorengan, dan cuma menghabiskan budget Rp. 4.500,-. Kenaikan BBM rupanya belum begitu berpengaruh disini, es jus segelas besar harganya 2 ribu sementara gorengan[6] lima ratus perak saja satunya. Bayangkan betapa surganya itu!

Kemudian hujan yang lumayan lebat membuat agak lama ngaso disitu, saat lumayan reda perjalanan diteruskan ke arah Patuk. Kemudian turun mengikuti jalan wonosari. Di tengah jalan hujan semakin rajin dan membesar. Aku pun mampir di warung penyetan yang belum buka untuk berteduh sementara mereka bertiga bablas terus.

Eh ternyata ketemu lagi di depan Kids Fun, hujan masih sedikit rintik-rintik kecil. Kuwahara, Federal, A-Pro & sepedaku kembali dikayuh. Di perempatan mas andi terus pulang, sisanya menuju jl. Solo untuk kemudian mampir di pecel magetan bu ramelan di sisi kiri jalan yang terus terbayang sepanjang jalan menuju pulang 😀 . Pecelnya enak, saus kacangnya enak, peyeknya enak, telornya enak, tahunya rasa tahu goreng & ditambah teh panas hanya RP. 9.500,-. Bayangkan lagi betapa surganya itu!

Sehabis makan besar kemudian menuju pulang setelah sempat-sempatnya mampir sebentar di toko sepeda. Gerimis tak jua ada niat berhenti rupanya. Akibatnya kaos lumayan basah karena agak malas memasang raincoat, sepatu cleat jauh lebih basah, langsung saja diselipkan di belakang kulkas, mungkin sekarang sudah kering.

——————————————————————————

[1] Angkringan dekat depan hotel Kumbokarno di Jl. Mangkubumi, tepat di seberang hotel 101.
[2] Jogja Last Friday Ride, 28 Nov 2014
[3] Belakangan ternyata beliau sempat-sempatnya mampir beli gituan di pasar Ngipik tanpa ketahuan
[4] Mungkin kalau dibikin komik, bisa digambarkan kalau saat itu badanku penuh keringatderas, kepalaku berasap hebat, kedua kakiku dipenuhi api yang menjalar sampai pinggang.
[5] Pipis di semak-semak 😀
[6] Tempe, tahu, bakwan

Advertisements

One thought on “kali ketiga ke cinomati

  1. Pingback: Dilarang Buang Sampah Sembarangan | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s