sudut pandang lainnya

..begitu juga dengan pandangan akan seseorang. Seseorang tak akan pernah bisa menilai dengan persis tentang orang lain, karena aku pikir tak ada yang tahu 100 % tentang seseorang, baik itu tentang kemampuannya dan tentang apapun yang terkait dengan dirinya.

kalau rajin, bolehlah dibaca tentang fenomena Iceberg, yang kita lihat, yang panca indera rasakan kemungkinan besar hanyalah bagian atasnya, bagian permukaannya, yang hanya sebagian kecil dari dari sesuatu, atau seseorang.

Dan penilaian tentang seseorang tentulah lagi-lagi terkait dengan pengetahuan & kepekaan panca indera yang dimiliki sang penilai, sehingga lagi-lagi perspektif yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang bisa jadi jauh berbeda.

Misalkan ada beberapa mahasiswa yang saat nongkrong di depan sebuah kampus, melihat seseorang berpenampilan seperti seorang tukang kayu membawa lemari kecil sederhana yang terikat di rear rack menggowes sepedanya tergesa-gesa ke arah kampus. Apa yang terlintas di pikiran saat itu?

Kemungkinan besar yang terpikir sang tukang kayu sedang mengantarkan pesanan seseorang yang sedang menunggu dengan tidak sabar karena sudah melewati deadline yang ditentukan.

Terpikir tidak, kemungkinan beliau itu adalah seorang dosen mata kuliah teknologi hasil hutan yang sedang tak sabar menunjukkan hasil pembuatan lemari yang presisi berbahan dasar serat bambu yang dilaminasi dengan tambahan angsana particle board dan penyatuannya hanya menggunakan lem & pasak, dan tak sabar ingin cepat-cepat menemui mahasiswanya karena memang terbiasa tepat waktu dalam mengajar.

Kenapa sering salah menilai seseorang, itu selain karena pengetahuan dan daya tangkap panca indera manusia yang terbatas, juga lagi-lagi karena memang menginginkannya demikian.

Tukang kayu di atas, tetaplah tukang kayu yang kemampuannya ya begitu saja di mata para mahasiswa yang merasa pintar & tahu segalanya yang asik nongkrong itu, tanpa ingin menggali lebih dalam lagi tentangnya, entah tak peduli, entah memang merasa tiada gunanya.

Kalaupun terungkap jatidiri sang tukang kayu yang sebenarnya, ada dua kemungkinan: Pertama, mengakui kesalahan & bisa jadi berbalik sungkan. Kedua, tetap saja memandangnya sebagaimana yang dikehendakinya, dan tetap denial dengan kenyataan sesungguhnya.

Sekali berpendirian negatif akan sesuatu, mungkin agak susah merubahnya ke arah positif, kecuali berusaha menetralkan diri sendiri dulu.

Ujung-ujungnya, walaupun dikasih fakta nyata yang sesungguhnya, bisa jadi pula berkomentar: ah itu mesti cuma supaya dipandang sederhana aja, asline kudu ndak macam gitu, dosen kok mau-maunya ngepot pake pit!

Nah, kata sederhana sendiri sebenarnya adalah… halagh sudahlah, kepanjangan…

—-

*foto di atas ngambil disana.

Advertisements

3 thoughts on “sudut pandang lainnya

  1. devieriana

    Kok pikiran kita nyaris serupa ya, Oom? Aku juga sempat mau nulis tentang hal ini. Cuman belum sempat-sempat, malah ide nulis yang lainnya yang muncul (walaupun sama, belum ditulis-tulis juga 😐 )

    Anyway, aku suka tulisan ini 😉

    Like

    Reply
    1. wxrm Post author

      ditunggu tulisannya, ohiya tulisanku sebelum ini sebenernya isinya mirip2 saja cuma ditulis dari sudut pandang yg agak beda #mbulet 😀

      Like

      Reply
  2. Pingback: standar ganda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s