reminisce

/reməˈnis/
indulge in enjoyable recollection of past events


part 1.

Tahun ini, Enstein membuktikan teorinya kalau waktu adalah hal yang relatif. Bagi orang lain mungkin tidak terasa, bagi diriku mungkin juga begitu. Nyatanya beberapa bulan lagi usiaku sudah tak lagi berada di zona 30-an.

Kalau ada komentar “kentara hidup di era mana” mungkin menurut mereka yang muda (atau yang masih merasa muda) adalah hal yang lucu-lucuan, tapi bagiku itu sudah hal yang netral. Memang nyatanya hidupku dimulai di tahun 70-an, mengalami segarnya kabut di tahun 80-an, musik yang menyenangkan telinga di era 90-an sampai tiba di tahun 2000-an, itu empat dekade.

Senang-senang yang berlebihan rasanya sudah cukup, kadar kenekatan juga harus mulai dikurangi. Aku pikir mungkin usia mentalku agak terlambat dewasa, walau tak terukur secara ilmiah, menurutku begitu. Mengutip kalimat bijak bang Alex akan obrolan tentang hal ini …

semacam curhat saat usia tak memungkinkan lagi panas bersilat,
tak lagi serengkah biasa

..katanya pertimbangan orang-orang tercinta yang harus dilindungi dan dipikirkan lebih-lebih dari diri sendiri menyebabkan tak bisa lagi karena emosi jadi enteng clurit ditenteng, ya nyatanya dulu pernah juga begitu.

Kemarin aku melihat beberapa status kawan kuliah, yang beranjak hijrah tak lagi memikirkan masalah dunia. Senang membacanya. Senang melihat mereka yang sudah jadi apa-apa, sementara diri sendiri betapa memalukan belum beranjak kemana-mana.

Ya saatnya berpikir tua. Sudah saatnya memilah-milah kemudian memindahkan sebagian besar data ke folder reminisce untuk disimpan, sementara sebagiannya lagi mulai ditata lagi, walau tentu tak lagi bisa sesigap dulu.

Saatnya kemudian meresapi & menumbuhkan semua cinta yang tersebar dari awal membuka pintu, saat pulang nanti.

.

Old pictures that I’ll always see
I ain’t got time to reminisce old novelties

– yesterday, Guns n’ Roses

/part 2.

Menurutku, hidup manusia itu terbagi atas dua masa dan dua peran ; penonton dan pelaku.

Masa pertama adalah saat hanya menjadi penonton atas hal-hal yang serius yang adalah tugas orang lain, di sisi lain adalah sebagai pelaku apapun yang diinginkan naluri, sebebas-bebasnya.

Maksudku, masa muda tentunya, yang maunya menang sendiri walau salah tak peduli[1]. Eranya memberontak terhadap segala macam tatanan tanpa memikirkan konsekuensinya, yang menanggapi hidup dengan seruan“gimana nanti!, bukan atas dasar pertanyaan: besok gimana?[2]

‘Masa yang fungsional dan adaptif, begitu mengutip pernyataan B.J. Casey di tulisan mengenai darah muda itu, masa-masa yang memang seharusnya pembelajaran bagi orangtua untuk bisa lebih mengerti apa yang diinginkan dan dipikirkan anak-anaknya[3].

Anak-anak kebanyakan tidak terlalu memikirkan hal-hal serius semacam apa yang dikerjakan orangtuanya, bagaimana hidup mereka berjalan . Tahunya adalah menjalankan perannya saja, sementara supply kehidupannya adalah urusan orangtua.

Bagian kedua adalah kebalikan total dari bagian pertama.

Mungkin starting pointnya dimulai saat mulai memasuki pernikahan. Bisa jadi sebelum titik itu dicapai. Saat dimana merasa kalau saat senang-senang tanpa memikirkan konsekuensi sudah jauh berkurang. Peran pelaku kehidupan sudah dirasakan muncul, hidup tak lagi untuk diri sendiri. Sudah sering begitu memikirkan resiko atas apapun.

Masalahnya adalah ada beberapa orang yang terkadang lupa akan batas yang tak terlihat antara dua masa itu. Ada masa transformasi yang mau tak mau harus dilalui, masa adaptasi, cope, dan penyadaran diri yang harusnya terpikirkan, atau dipikirkan.

Kalau sampai lupa ada batas, disitulah titik yang berbahaya. tak sadar kalau waktu terus berdetik. Trance atau blackout hingga lupa sama sekali akan sekitarnya, bahkan ada dimana & kapan pun tak ingat lagi.

Kalau sudah begitu proses penyadaran diri bisa jadi susah sekali, kecuali benar-benar berusaha meledakkan pikiran, meletakkan kembali ingatan akan batas

[1] Darah muda, Rhoma Irama
[2] Jejak-jejak h.204, bubin LantanG
[3] Majalah National Geographic edisi Oktober 2011.

.

Kau harus bisa berlapang dada,
kau harus bisa ambil hikmahnya,
karena semua tak lagi sama
– So7

//bagian 3

Kemain, aku membuka windows explorer dan merasa penataan folder-folder di komputer teramat berantakannya. Merasa tak nyaman akhirnya pelan-pelan ditata. Memilah-milah file yang penting dan tidak, mengatur ulang, mengklasifikasikan menurut jenis dan peruntukkannya.

Hal sederhana yang sedikit merepotkan. Ada beberapa file yang bingung mau dimasukkan kemana, akhir-akhirnya seperti yang biasa aku lakukan. Membuat folder bernama etc. Sesuai judulnya, isinya adalah hal-hal yang mungkin kalau di blog masuk kategori uncategorized.

Coba ya pikiran manusia semuanya bisa dibuat begitu, jadi tiap hari sebelum membuka pikiran, otomatis melihat urgensinya sebelum melakukan langkah selanjutnya. Tidak semua orang bisa begitu, kadang berpikir secara random, melakukan hal secara acak, tak beraturan, hasilnya tentu tak bagus.

Tapi begitulah manusia dengan segala keterbatasannya, yang kadang dijadikan senjata untuk membunuh dirinya sendiri dengan segala pemakluman yang dibuatnya sendiri. Manusia disini maksudnya aku. Bukankah keterbatasan yang diberikan-Nya dimaksudkan untuk diatasi, bukan hanya diam bengong menonton. Bukankah begitu?

terakhir, kalimat bijak putri mantan presiden Indonesia, mbak Allisa Wahid, bagus dibaca-baca lagi,  terimakasih.

Advertisements

3 thoughts on “reminisce

  1. tiieee

    banyak hal yang muter-muter di kepala aku nih, soal dua masa dua peran, soal resolusi, soal perjalanan hidup sebelum penikahan dan setelah pernikahan, dan soal defragment otak.. ah si om, bikin galau.. *lah*

    Like

    Reply
  2. christin

    aku sedang bersiap-siap memasuki akhir era 20-an, dan rasanya ya begitu. merasa tanggung jawab semakin membesar, dan niat untuk memberontak semakin mengecil. tapi di antara realitas yang mau gak mau harus dihadapi itu, bolehlah sedikit dari idealisme masa muda tetap ada. juga mimpi yang harus jadi nyata.

    terimakasih renungannya, om.

    Like

    Reply
  3. wxrm Post author

    @tiye
    . jalanin saja semuanya, ntar jg beres dgn sendirinya 😀

    @christin
    . lha masa2mu skarang emang lg fase2nya memperjuangkan idealisme dan membuktikan hasil pemberontakan, smoga sukses ya dg mimpinya 🙂

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s