#1 ke Ponorogo

mungkin mulai sekarang lebih bagus juga, tiap perjalanan pakai sepeda dikasih nomor urut, maksudnya yang lumayan jauh atau agak ajaib di tahun 2015 ini.

Ini adalah perjalanan bersepeda rada jauh di awal tahun ini.  Sebenarnya sudah direncanakan entah kapan, eh tiba-tiba seorang kawan ((kawan sekaligus guru kehidupan bagi saya, yang mencak-mencak mendengar rencana saya mau ke Ponorogo naik sepeda, alhamdulillah dikhawatirin)) baik tiba-tiba saja menghubungi saya minta bantuan nyariin rental mobil, berhubung beliau nantinya pulang via surabaya, jadi saya juga diminta tolong untuk ngambil mobilnya yang ditinggal di Ponorogo.  Sampai sini kira-kira sudah bisa dimengerti ?  Pokoknya begitulah

/etape 1. 85 km

Hari sabtu (10.01.2014) sore menjelang maghrib , sekitar pukul 05.30 saya pun bergegas mengemasi barang dalam pannier ((tas sepeda yang dipasang di boncengan itu lah, sekalian nyobain dibawa jalan jauh)), mengisinya dengan barang-barang yang kira-kira diperlukan di perjalanan ((ya peralatan standar semacam peralatan mandi, tools, ban dalam cadangan, air minum)), menyiapkannya di rear rack, kemudian membaca do’a dan pelan-pelan beranjak.

Sebelumnya memang sudah bertanya-tanya jalur Jogja-Wonogiri sama teman, juga membaca catatan perjalanan mas rudi kismo saat turing Jakarta-Bali.  Akhirnya saya pun meluncur ke arah Solo, untuk kemudian berbelok ke stasiun Srowot.  Dari situ sok tau sendiri, nggak pake nanya-nanya, akhirnya nyasar beneran, untung akhirnya sadar kalau sesat beneran di jalan kalau malu bertanya, syukurlah saya bisa kembali ke jalan yang benar. Hore!

Akhirnya sampai pertigaan Wedi, terus ke Bayat, Cawas, Bulu, melewati sawah yang gelap, hutan jati yang sepi.  Perjalanan malam hari sendirian gitu bagus juga, jadi makin rajin berdoa hehe

Akhirnya menjelang tengah malam sampai di pertigaan terminal Krisak, terus ke kota Wonogiri, mampir sejenak dinner di angkringan yang cuma tersisa sate usus dan tempe goreng.  Rencana menginap di masjid agung wonogiri gagal karena ternyata pagarnya dikunci, akhirnya memutuskan untuk ke pom bensin alis SPBU terdekat.

Alhamdulillah, penjaga spbu nya berbaik hati membolehkan saya tidur di musholla, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 12 malam.  Mencoba untuk tidur di tengah godaan nyamuk, sampai akhirnya subuhpun tiba.  Numpang mandi sebentar kemudian subuhan dan perjalanan pun dimulai lagi.

depan musholla spbu tempat tidur sejenak

depan musholla spbu tempat tidur sejenak

Secara garis besar jalanan Jogja-Wonogiri relatif datar, hanya ada beberapa bagian yang agak menanjak dan yang jelas sepi di beberapa ruas jalan, yaiyalah sudah larut malam bingit.  Untungnya di beberapa persimpangan jalan selalu ada orang-orang baik yang dengan baik hati menunjukkan jalan.

/etape 2. 78 km

Tak disangka, baru mulai mengayuh pedal ((setelah sebelumnya memberitahu sama honey kalau saya dalam perjalanan bersepeda, sengaja ngasih taunya di tengah jalan, soalnya kalo dikasih tau pas awal berangkat ntar saya dikhawatirin dengan terlalu gitu, kasian kan kalo kepikiran saya terus, terus saya pun kepikiran yang mikirin saya, rauwis-uwis bro)) , langsung dihadang tanjakan yang lumayan, dan terus begitu tak henti-henti.  Kadang ada sedikit datar, kemudian nanjak lagi.  Kadang ada nurun dikit, kemudian nanjak lagi.

Rasanya sepanjang kota wonogiri – ngadirojo – sidoharjo – jatisrono – slogohimo – purwantoro, didominasi tanjakan tanpa ampun, sambung menyambung menjadi satu.  Baru kira-kira dua puluh kilometer menjelang kota Ponorogo, jalan sudah relatif datar.  Pokoknya bikin kapok kalo sepedaan sendirian kesana, kecuali ada yang mau tersiksa bareng saya, dengan senang hati mau menemani, ada yang berminat mungkin?

Sempat mampir sejenak di sekitar sidoharjo untuk sarapan soto ayam, kemudian menjelang jatisrono tiba-tiba ada pesepeda yang menjejeri. Nama beliau mas Tri Setyo, katanya anggota komunitas sepeda jago.com ((jatisrono gowes community)) , keren juga di gunung gitu ada yang bikin komunitas sepeda.  Akhirnya saya diminta mampir di sebuah toko sepeda yang juga temannya sepedaan, namanya mas Sukar, ngobrol-ngobrol sejenak tentang sepeda.  Alhamdulillah ketemu kawan baru lagi.  Tapi karena waktu sudah sekitar jam 10, saya pamit undur diri, supaya nyampe ponorogo ga siang-siang amat.

gerbang

Ternyata sampai kota tepat menjelang zuhur, akhirnya saya putuskan untuk stop di masjia agung ponorogo.  Kemudian zuhur, kemudian nelpon temen.  Berhubung sudah siang amat, sepeda saya putuskan masuk mobil, kemudian makan siang.  Sungguh ending yang menyenangkan hehe

Rencana membawa mobil ke Jogja malam itu pun ditunda, berhubung rasanya body minta istirahat.  Jadinya numpang tidur di Pondok Gontor, tempat teman saya itu juga nginep sehabis mengantarkan anaknya pulang liburan.  Nantilah bagian di pondok ini saya ceritakan terpisah.

Menjelangh tengah malam, teman saya pamit ke surabaya, saya tidak tahu berhubung tertidur pulas hehe.  Subuh kebangun, kemudian sehabis sholat pamit pada bapak-bapak yang menginap disitu juga.  Nyetir dengan perasaan aman & nyaman karena tak lebih napak tilas perjalanan malam sebelumnya.  Jadi tak pake nanya-nanya lagi.

Empat jam tak terasa sampai Jogja, kemudian begitulah. Tak terasa tiga propinsi dilewati ternyata.  Nanti kemana lagi ya?

________

Advertisements

4 thoughts on “#1 ke Ponorogo

  1. wxrm Post author

    @tiee
    ya sepi laahhh, tapi kan ada orang yg bisa ditanya saat di jalan hehe

    @chiil
    betul sekali, kakak !

    @rudi K
    halo mas, kapan touring lagi ? 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s