mimpi manusia

#Screenshot_3Aku pikir manusia dan mimpinya ada bisa dikategorikan dalam beberapa kuadran terkait dengan usahanya

Yang pertama tentulah orang yang punya mimpi-mimpi indah dalam hidupnya tapi juga sangat ingin mewujudkannya, begini seharusnya mungkin secara logis, tapi kalau tak bisa mengendalikan diri efeknya jadi super ambisius, tapi tak mengapa sepanjang sadar akan batas kemampuan manusia. Maksudnya tidak kecewa berlebihan saat mimpinya tak semua bisa menjadi nyata.

Kedua, jelas tipe pemimpi. Hanya bisa bermimpi tapi tidak mau bergerak untuk mewujudkannya, sekedar punya imajinasi dan awang-awang sudah cukup menyenangkan. Yang absurd adalah kalau maksa mimpinya ingin terwujud tapi tak juga berusaha supaya itu terjadi, mungkin kepikiran melakukan usaha yang lain demi mimpinya : jalan pintas. Berbahaya sekali memang orang yang termasuk kuadran ini.

Ketiga, adalah jenis orang yang tak terlalu mikirin mimpi-mimpinya, kalaupun ada sangat normatif sekali : yang penting bisa hidup dan dan menjalaninya dengan tenang. Tapi di lain sisi kerja keras tak pernah henti dilakukan, melakukan semaksimal apa yang bisa lakukan dengan apa yang harus dijalani. Orang macam ini hidupnya keren sekali, mungkin punya prinsip do the best for today, tomorrow will follow, sederhana sekali.

Yang paling akhir tentunya yang entahlah, nyaris tak punya mimpi, nyaris tak ingin melakukan apapun juga. Mungkin hidup dianggap adalah persinggahan sementara, literally.. jadi untuk apa harus ngapa-ngapain, kelihatan sekilas ini super absurd, tapi percayalah ada orang yang seperti ini di dunia. Aku berani bilang karena pernah masuk kuadran ini.

Kalau sekarang aku rasa aku ngambang antara yang kedua dan ketiga, masih suka malas soalnya hehe

Advertisements

3 thoughts on “mimpi manusia

  1. Elia Bintang

    Kok bisa ngambang antara kedua dan ketiga? Itu justru bertolak belakang banget, kan? Hehe…. Kalo saya mungkin antara satu dan dua, walaupun sadar mungkin akan lebih bahagia kalo bisa jadi yang ketiga. Tapi Paul Arden pernah bilang, without a goal it’s difficult to score.

    Like

    Reply
  2. wxrm Post author

    @elia
    eh benar juga ya, bertentangan dalam satu hal, saya memang absurd memposisikan diri haha parah, baiklah pindah posisi kuadran ah *semena-mena*. dan iya, nyatanya sesuatu yg bernama tujuan itu memang adalah hal yg penting diwujudkan sebelum mulai melangkah. ternyata otakmu itu otak ilmuwan beneran dalam menganalisa sesuatu, detil sekali bung

    Like

    Reply
  3. Kimi

    Aku sepertinya juga antara kuadran dua dan kuadran tiga. Kalau kata Elia bertentangan, ya bisa juga. Tapi, kalau aku melihat diriku sendiri, aku bisa mengerti kenapa aku labil begitu; bingung antara kuadran dua atau tiga. Karena ya itu tadi: aku labil. Terkadang aku punya mimpi tinggi sekali, tapi giliran disuruh usaha aku malas.

    Ketiga, adalah jenis orang yang tak terlalu mikirin mimpi-mimpinya, kalaupun ada sangat normatif sekali : yang penting bisa hidup dan menjalaninya dengan tenang. Tapi di lain sisi kerja keras tak pernah henti dilakukan, melakukan semaksimal apa yang bisa lakukan dengan apa yang harus dijalani.

    Penjelasan Om itu kok aku rasakan ya. Meski kadang-kadang. Hahaha… Kadang aku berpikir hidup ini gak usah ngoyo amat. Yang penting bisa hidup tenang, diriku dan keluarga sehat, kebutuhan pokok terpenuhi, ya sudah lah. Cukup. Tapi, bukan berarti aku malas-malasan. Gak lah. Aku tetap berusaha maksimal kok. 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s