arogansi gelar

/pertama

Jane Goodall, adalah ahli primata dan etologi yang kehidupannya sangat menarik ((saya membaca di majalah national geographic edisi Indonesia…)).  Seseorang yang memang mencintai kehidupan binatang, yang kemudian menjadi sekretaris Louis Leakey dan dikirim ke Gombe, Tanzania untuk mengamati perilaku simpanse.  Dan berkat minat, kecintaan dan kejeliannya, dalam waktu beberapa bulan dia sudah menemukan beberapa temuan penting yang memporakporandakan teori sebelumnya tentang perilaku primata.  Menariknya, Goodall tidak mempunyai latar belakang pendidikan sarjana, tetapi karena beberapa temuannya tersebut, kemudian direkomendasikan Leakey untuk mengikuti program Ph.D di Universitas Cambridge.

Jelas saja, data hasil penemuannya yang dikumpulkan selama kurang lebih 15 bulan selama di camp membuat heboh para profesor yang teori-teorinya terbantahkan.  Bahkan semua temuan dan metodenya  dianggap salah.  Tapi toh fakta juga yang berbicara, teori dan metodenya membuktikan adanya kebenaran baru itu.  Mungkin para profesor itu lupa satu hal : kalau ilmu dan metodologi itu sifatnya dinamis, terus berkembang seiring perjalanan waktu.

/kedua

Terkait postinganku sebelumnya.  Yaitu tentang seorang dosenku yang membantah temuan seniornya.  Ujung-ujungnya ya ajaib, tidak akur sampai akhir hayatnya.  Sang senior tetap berkeyakinan teorinya lah yang paling benar.  Okelah di satu sisi itu bisa dibenarkan karena terkait temuan yang dia yakini adalah benar dan terbaik.  Tapi kenapa usah membuka mata kalau tak ada yang sempurna di dunia ini *tsah* apalagi cuma ‘sekedar’ pemikiran manusia yang kemungkinan besar pasti ada kritik terhadapnya di masa-masa mendatang.

/ketiga

akhir tahun 2005,  pemilihan rektor di Unair heboh.  Kelompok dokter-dokter tua tak bisa menerima kenyataan kalau rektor yang terpilih bukan berasal dari kalangan mereka, sebagaimana tradisi bertahun-tahun di universitas itu kalau yang terpilih biasanya adalah bergelar dokter.  Terpilihnya seorang ahli farmasi yang meruntuhkan hegemoni mereka itu tampaknya menusuk hati para ilmuwan yang berpikiran sempit akibat instrusi kekuasaan yang melenakan bertahun-tahun.

/ke empat

bahkan menurutku di kalangan pesepeda, ada gelar tak tampak yang ingin dicapai, atau ditunjukkan oleh sebagian kecil orang yang menurutku pasti tidak menikmati sepenuhnya aktifitas bersepeda dan perjalanannya.  Ada yang ambisi mengumpulkan bermacam jenis sepeda entah untuk apa, ada yang ingin menunjukkan kecepatan maksimal yang bisa dicapai dan jarak terjauh yang bisa ditempuh dalam range waktu yang relatif singkat.  Tapi sudahlah, mungkin ini cuma sekedar ingin eksis atau pamer seperti yang sering saya lakukan kalau habis bersepeda jauh hihi.

kesimpulannya, tujuan akhir dari segala apapun adalah capaian sampai sejauh apa bisa menikmatinya, sejauh apa proses itu bisa dijalani dengan damai dan cinta, bukan hanya berdasar keinginan untuk diakui semata.  mungkin seperti kata farhan tentang karibnya rancho di film 3 idiots :

Today my respect for that idiot shot up. Most of us went to college just for a degree. No degree meant no plum job, no pretty wife, no credit card, no social status. But none of this mattered to him, he was in college for the joy of learning, he never cared if he was first or last

mungkin sedikit tak nyambung, tapi ya begitulah sudah, kalau segala sesuatu tujuannya adalah gelar, selamat untuk tidak menikmati hidup

Advertisements

5 thoughts on “arogansi gelar

  1. devieriana

    kalau yang sekarang, semua surat menyurat di kantorku pengirimnya tanpa pakai gelar. Soalnya Bapak Besar nggak pakai gelar, jadi ke bawah-bawahnya ngikut. Kalau yang dulu-dulu semua gelar akademis ditampilkan karena Bapak Besarnya pakai gelar. 😀

    Like

    Reply
  2. nanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    yang pertama,
    saya juga memiliki om yang bekerja sebagai aktivis orangutan, dan dia juga memiliki teori sendiri yang saya juga tidak paham karena sepertinya yang memahami dia hanya orangutan, om saya bahkan mampu me-recognize wajah-wajah orangutan sehutan-hutan namanya siapa saja -_-. dan om saya itu juga bukan sarjana tapi dari aktivitasnya dia bahkan dibayar konglomerat dan mafia-mafia untuk melestarikan tanah mereka a.k.a mereka jg punya suaka alam pribadi.
    jd memang gelar itu tidak menjamin.

    yang kedua,
    kita yang kuliah sudah pasti sering nemu yg kayak gini, saya di teknik arsitektur banyak kasus ngubah desain karena dosen tidak suka desainnya (anyway, desain kan masalah selera) jd kita harus maksa selera yg sama dgn dosen. itu ngeselin banget. padahal mgkn desain kita lebih spektakuler daripada, ya bagaimanapun didunia perkuliahan gak menjamin dosen emg lebih pinter dr maha-siswa karena siswa disitu kadang cuma jadi kuli—ah (yg hanya butiran debu)

    yang ketiga,
    “akan selalu ada untuk yang pertama kali.”

    yang keempat,
    kadang saya pamer juga kalo habis sepedaan (saya sepedaan teratur seminggu sekali), pamernya bukan karena apa sih, dulu pernah dibilangin org paling mainstream aja ikut-ikutan (dulu pas musim fixie dll), padahal saya ndak ikut-ikutan. saya tetep sepedaan smpe skrg, pamer klo gw konsisten. *cieh sombong minta dilepeh hoek*

    yang kelima, komen saya panjang sekali dan gak nyambung juga padahal saya sedang di jam kerja skrg nyolong2.hahahaha sekian dan terimakasih 😆

    Like

    Reply
  3. fayy

    hai om warm *dadah2* 😀

    (sbenernya cuman pengen nyapa sahaja :D)

    etapi dari lubuk hati yang paling dalam, saya juga sebenernya ngga sberapa suka dengan mereka yang nyantumin gelar atau bangga2in gelarnya…

    ilmu itu dicari karena kita menyukainya, bukan karena akan ada sesuatu yang nempel pada kita..

    Like

    Reply
  4. wxrm Post author

    @nana
    ditunggu liputan sepedaannya
    *orang komen panjang2 responnya singkat gini haha*

    smua uraian di komenmu itu sudah menjelaskan banyak hal soalnya 😀

    @fay
    halo! itulah caranya menikmati proses pencarian ilmu sebaiknya

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s