Author Archives: Rd.

balik ke auk

ya ya akhirnya saya labil lagi, memutuskan untuk balik ke auk.web.id lagi deh, kebetulan ada sisa-sisa saldo yang bisa dibayarkan untuk hosting yang sebenernya tak begitu mahal juga untuk iuran setahun.

jadi ya silakan menengok ke blog auk lagi ehehehe

terimakasih untuk siapapun yang telah meluangkan waktunya berkunjung kesini, mungkin suatu saat akan saya update juga, entah kapan dan entah tentang apa

begitulah

pesanan labil, tagihan maksa & footnotes

baru saja dapet notif di email, intinya saya harus membayar tagihan untuk free parking domain blogspot1, yang membuat saya aneh, tagihan itu isinya seakan-akan maksa.  Akun saya akan di-disable jika tak membayar tagihan.

Lah, kan ada batas kadaluarsa tagihan, kalau tak membayar semestinya ya sudahlah, artinya pemesanan batal, beres toh? Akibat tagihan maksa itu, saya jadinya semakin mantap untuk tidak jadi membayarnya.

oh iya, di paragraf awal saya ingin bikin footnote lagi, seperti di blog lama, sebelum akhirnya sadar kalau blog ini tak punya plugins untuk itu, akhirnya gugling dan ketemu web yang membahas tentang itu2, akhirnya saya ikutin step by step-nya, dan voila, bisa..

sementara itu,

berita-berita di media mainstream maupun media sosial akhir-akhir ini tetap saja tak ada perubahan, masing-masing pembawa berita keukeuh dengan pendapatnya masing-masing, tentu saja semuanya merasa yang paling bagus dan benar, akhirnya membacanya selintas-lintas saja, nimbrung sekenanya saja.

dan detik.com pun rasanya sekarang isinya random sekali, seperti kebingungan mencari fokus berita, di sisi malah makin intens membahas perkara sex dari sisi yang tak perlu dan kebanyakan teori dan cuma bikin penasaran doang, (tendang detik.com!)

tentang sepeda,

ohya, page sepeda belum saya isi banyak-banyak, masih belum tahu format isinya nanti seperti apa.  perkembangan yang jelas saat ini, setelah disiksa nyaris sepanjang 600 km dalam waktu kurang dari sebulan, sadel saya akhirnya break-in sangat nyaman dinaiki. rasa penasaran saya akan sadel legendaris itu terbayar sudah, tak rugi menebusnya sedikit mahal.

tentang jogja,

ahir-akhir ini seringkali panas sepanjang pagi sampai siang hari, sore meredup dan malamnya kemudian hujan deras, berlanjut gerimis sampai dinginnya awet ke subuh.  begitu saja.

.
_________________________________________________________

footnotes

1. rencana awal memang mau hosting pake blogspot tapi tidak jadi, kemudian mau memperpanjang hosting, pun tak jadi
2. creating footnotes in wordpress

yasudahlah ™

tadinya mau memperpanjang domain auk.web.id, sudah dilakukan memang, tapi hostingnya belum dipikirkan, akhir bulan jadi duitku tak cukup.  tadinya kepikiran untuk hosting di blogspot, tapi aku tak begitu suka blogspot, jadi yasudahlah, bikin blog baru lagi saja. beres!

seperti biasa, bagian awal yang menarik dari wordpress adalah memilih theme, dan menyedihkannya sekarang, banyak tema-tema favorit saya yang lama, yang minimalis, justru ‘pada dipensiunkan’.  yasudahlah, gunakan saja yang ada, yang mendekati keinginan.

kemudian apalagi?
yasudahlah ™, begini saja dulu.

tugas.blog.tawangmangu

sekalian saja tiga topik dijadikan satu, dimulai dari kata terakhir..

tawangmangu. 21-22.03.2015

ini kali kedua saya kesana, pertama kali dulu bertiga sampai karangpandan, kemudian dari situ sendirian ke tawangmangu.  kemarin itu perjalanan kedua, yang saya pikir lebih ringan, tapi ternyata lebih parah. ± 130 km harus ditempuh dalam 15 jam, plus tanjakan tiada henti sejak tanjakan pathuk, rolling yang sambung menyambung sejak wonosari, kemaleman di jalan di tengah guyuran hujan yang derasnya maksimal, hingga sampai di penginepan jam 10 malem, kurang apalagi coba, selain kurang kerjaan 😐

ya rute kemarin memang rada nyeleneh, dari jogja via wonosari lewat karangmojo melintasi semin, sukoharjo sampai terakhir keluarnya kira-kira 500m sebelum terminal tawangmangu, tenaga saya sampai super habis rasanya, sehingga sempet dua kali menuntun urbano di tanjakan biadab.

tapi serunya kemarin, saya ikut rombongannya mas rofi dan warga kampung karangkajen, makan dan penginepan dijamin oleh pak komar, yang saya belum sempat berterimakasih pada beliau karena pas pulang ditinggal rombongan karena gak bisa lagi ngejar kecepatan para pesepeda paten itu.  bagian menyenangkan lainnya, saya banyak kenal dengan teman baru lagi, menariknya satu teman baru ternyata justru bekerja di kampus tempat saya kuliah sekarang 😀

urbano

sedikit menyesal memang, pas minggu paginya tak sempat ikutan nanjak lagi ke cemorosewu, yang konon jalan rayanya adalah tertinggi di P. jawa, lha 1900 mdpl jeh, sementara tempat nginep aja tingginya sudah 1200 mdpl, dan beda elevasi segitu cuma dalam jarak kurang lebih 9 kilometer, saya nyerah duluan, karena inget pulang yang harus menempuh 100 km-an lagi. nantilah kalau ada waktu suatu saat kesitu (lagi).  dan bener pas pulang saya keteteran, terlebih tambahan pannier, walau cuma satu sisi ternyata lumayan terasa saat tenaga sudah nyaris habis, syukurlah akhirnya sampai Jogja lagi jam 5 sore setelah mampir sana sini selepas jam 9 pagi dari tawangmangu.

blog auk 29.03.2015

nggak terlalu penting memang, tapi di emaiol masuk ada notifikasi kalau hosting blog auk akan berakhir tanggal segitu, sebenernya domain auk.web.id sudah saya perpanjang sih, iya karena murah,. cuma 55 ribu saja plus ppn.  tapi soal hosting saya belum tahu, apa akan memperpanjang hosting, atau sementara pakai parking domain di blogspot, entahlah belum tahu.  sementara untuk memperpanjang hosting, budgetnya belum ada haha malah curcol, padahal cuma 118 rb coba, tapi masa hal lain yang lebih penting saat ini dibanding itu, halagh intinya saya lagi bokek, itu aja 😆

nantilah kalau ada rejeki lagi mari kita perpanjang suatu saat, entah cepat entah lambat, yang penting masih ada media untuk nulis (segala sesuatu yang sering absurd tak beraturan adanya).

tugas 04.2015

ya saya harus menjalani tugas akhir, akhirnya walaupun lambat, langkah ini sampai juga sampai etape terakhir dalam perjalanan sekolah nan panjang ini, tinggal one closer to the edge, kata lirik lagunya linkin’ park.  lebih harus banyak belajar membaca, menulis dan merendahkan hati dan diri.  dan bendera start memang terlihat dilambaikan mengantarkan jika ingin melihat bendera finish menyambut, gitu sih yang saya liat di balapan F1. lah malah ngaco, intinya begitulah.

mungkin ibarat sepeda, untuk nanjak, selain mengenali medan, juga harus nganu.. argh pokoknya begitulah, tak sampai seminggu menunggu blog ini mau diapakan, foto-foto perjalanan teramat sedikit untuk dipamerkan disini, paragraf terakhir ini makin random dan tak beraturan, mungkin saatnya disudahi dulu, sementara waktu.

b.e.g.i.t.u.l.a.h..

kecepatan rata-rata

life is not a race..
– pepatah entah

Iseng melihat-lihat daftar workout di akun endomondo saya, ternyata kecepatan bersepeda saya relatif stabil, kecepatan rata-rata di jalan relatif datar sekitar 17 km/jam, sedangkan di jalan yang relatif nanjak kecepatan rata-rata sekitar 10-11 km/jam.

Mungkin karena pola pedaling yang ideal untuk diri saya sudah terasa & tertemukan, itu artinya nganu.. halagh opo ya, ya aku pikir sih lebih menikmati bersepeda dengan pola seperti itu. Mengayuh tak terlalu cepat, juga tak terlalu lambat, terkecuali kalo pas ketemu tanjakan nan biadab. Yang penting bisa mengelola tenaga agar tak habis di tengah perjalanan dan bisa sampai titik finish dengan riang gembira.

Aku pikir™ perlu waktu setahun lebih bagiku hingga tahu titik nyaman dalam bersepeda, mulai sensitif apabila ada setingan yang terasa agak kurang, dan mulai benar-benar menikmatinya. Kurangajarnya terkadang pikiran ini jadinya menuntut perbaikan-perbaikan minor jika ada sedikit kejanggalan saat tubuh di atas sadel.

Lebih-lebih tiga titik tubuh yang bersentuhan langsung dengan sepeda (telapak tangan, kaki, dan pantat 😀 ) seperti otomatis memberi sinyal pada otak kalau ada yang mulai terasa tidak enak. Sungguh wuih sekali!

Menyenangkan kalau sudah bisa stabil dalam perjalanan. Itu hal terpenting dalam bersepeda, dalam hal apapun sebenernya sih. Lagian ngejar apa juga hidup ini..yg penting tujuan tercapaikan, nikmati prosesnya, cukup sudah *tsah.

Kiss can do

Ini adalah perjalanan bersepeda ketiga saya bersama personil yang sama : mas radit dan mas saktya.  Dan selama tiga kali bersepeda dengan mereka ada beberapa hal yang selalu saya alami ((sebelumnya begitu yang terjadi, pertama saat ke Selo, kedua saat ke Bebeng)) :

  1. jarak yang bikin ngos-ngosan
  2. tanjakan yang gila-gilaan
  3. turunan yang ampun-ampunan
  4. jalan rusak edan-edanan
  5. hutan yang aduhai
  6. pulang lumayan malam

lalu apa hubungannya dengan judul yang lumayan aduhai di atas itu?
oh itu, nama plesetan untuk salah satu destinasi wisata di Jogja : Gua Kiskendo 😀

sebenernya sih rute menuju Gua Kiskendo itu biasa saja, dengan catatan kalau kesananya naik mobil atau sepeda motor, yang menjadi luar biasa atau kalau mau dibilang kurang kerjaan sekali: kalau kesananya naik sepeda.

Hari sabtu kemarin, 14.03.2015 saya akhirnya kesampaian untuk mencicipi rute penuh tanjakan yang sebelumnya pernah saya survei naik motor.  Tapi tak pernah terbayang kalau perjalanan kali ini sungguh warbyasa!

Kali ini selain bersama mas radit dan mas saktya, juga bersama mas revo yang dulu pernah sama-sama ke karangpandan (lagi-lagi sama mas radit juga), plus teman seperjalanan baru bernama mas aziz.

Kalau sebelum-sebelumnya saya sudah tahu tipikal pesepeda yang lainnya, kali ini saya baru tahu kalau ada pesepeda yang dengkulnya sepertinya sudah matirasa, itulah mas aziz yang tak peduli tanjakan sudah bikin saya nyerah dan ndorong sepeda, dia malah terus nggowes tanpa bebas, mungkin kalau kata teman-teman istilahnya : wuedyanthir!  Salut lah untuk power nanjak beliau itu!

Pagi-pagi menjelang pukul delapan, setelah hujan yang rajin datang menjamah jogja sudah mulai reda, berlima dengan mas aryo, kumpul di sekitar Tugu untuk menuju arah barat.  Mampir sarapan soto di tengah-tengah jalan Godean, kemudian tak lama datang aziz yang menyusul.  Selesai sarapan, mas aryo balik ke timur, tim sak tekane tetap nekat ke barat.

Awalnya jalan hanyalah datar, begitu terus sampai perempatan Kenteng-Nanggulan, tapi beberapa kilometer setelah itu, tanjakan-tanjakan biadab mulai ramah menyapa.  Dan terus menerus tanpa henti, sampai puncaknya di belokan deket pohon beringin.  Titik dimana empat dari lima lelaki memutuskan untuk mendorong sepeda sampai puncak tanjakan, sementara ultraman bernama aziz nyelonong tanpa dosa dengan sepedanya.

#dorong

Saya pikir tanjakan sudah berakhir, ternyata terus bersambung sampai area Gua Kiskendo ((cuma mampir doang, jadi saya males foto-foto di tempat ini, guanya sendiri ternyata berada di dataran yang lebih rendah dari parkiran)) 😐
lumayan lama berhenti disitu karena sekalian makan siang dengan menu lotek.

#FUllteamSehabis makan siang, karena niat baik mengantar salah satu personil ganteng bernama revo ke waduk Sermo, akhirnya secara aklamasi diputuskan untuk pulang via Sermo.  Awalnya sih ketawa-ketawa karena banyak turunan, tapi habis itu, tanjakan lagi, lagi-lagi tanjakan, sungguh ..

Tapi sudah kepalang tanggung, tapi asiknya di ruas jalan antara Kiskendo-Sermo, walaupun rolling-nya edan-edanan, ada beberapa curug ((foto curug di bawah dari halaman facebook-nya mas aziz)) alias air terjun yang berhasil dilewati, salah satunya curug sigembor kalo ga salah, yang posisinya persis di pinggir jalan.

11071623_10203589211521637_5372806720167745436_n
Jadi begitulah, setelah beberapa kali dihajar tanjakan, akhirnya ketemu turunan yang curamnya tak kalah gila-gilaan, itu di etape terakhir menuju waduk Sermo sebelum akhirnya melepas revo ketemu dengan seorang gadis manis yang memanggilnya abang di perempatan,  rencananya kemping dengan adik angkatannya disitu 😐 *kalimat ini terasa janggal*

Menjelang maghrib, aziz melesat pulang, saya mampir maghriban sama saktya di musholla, giliran radit melesat duluan.  Akhirnya tersisa saya dan mas saktya terseok-seok kembali ke jogja, yang ternyata masih 30 km, dan masih ada tanjakan pula *istighfar*

Mampir sejenak untuk dinner lele goreng, berpisah di pertigaan, saktya ke seputaran stadion mandala krida, saya menuju pulang, sesampai kos sudah nyaris jam 10 malam, dua belas jam lebih dijalan dengan jarak kurang lebih 80 km.

Begitulah.
Capek!
tapi asik!

..

*post scriptum

Oh iya perjalanan kali ini dengan sepeda lipat, polygon urbano sebagai pengganti mbak surly yang pensiun dini, yang baru saya pakai kurang lebih seminggu , tapi sudah mengalami penyiksaan maha berat hehe.  Ini sekilas fotonya di tengah jalan feat. mas radit dan latar belakang tanjakan yang siap menerkam.

#Radit
m/

tiga macam alasan

Paling tidak ada tiga alasan untuk menjaga beberapa buku tetap bertahan di rak buku saya. Selain itu mungkin sekedar parkir saja, suatu saat nanti mungkin akan keluar dari situ, berkelana entah kemana, terserah angin membawanya. Lagian saya kan statusnya cuma tukang parkir, biasanya apa toh..

Rasanya itu juga tak berlaku untuk buku, barang lain pun bisa begitu, dengan prinsip yang kurang lebih sama. Walaupun kadang ada yang menggoda untuk tetep disimpen, tapi menurut saya ada satu saat seseorang yang lebih pinter ngerawatnya.

Mungkin ada yang bisa menebak tiga alasan tersebut?
ya sekalian dijadikan soal koeis djoem’at ini deh, ada dua buku dari sahabat saya rhein fathia yang mau dibagikan. Satu buku lamanya yang berjudul jadian 6 bulan, satunya lagi adalah novel terbarunya : gloomy gift.

Saya rasa sekarang kalau mau bikin kuis mending seperti ini saja, tak usah diumumkan, siapa yang mampir dan membacanya, dan kemudian mau ikutan ya sudah begitu. Yang menang pun biar saja menebak-nebak, karena akan saya hubungi via email

Lagian sekarang juga tak bisa mengumumkan dimana-mana, semua akun sosmed saya benar-benar dibikin tiarap untuk sementara. Saya rasanya masih harus belajar menata mulut (atau jari) untuk memfilter apa yang seharusnya dan tidak seharusnya keluar dari benak saya.

Jadi terkesan serius gini, padahal ya pengen saja istirahat sementara. Tadinya akun-akun itu saya biarkan terbuka tanpa deactive, lah kemarin-kemarin malah iseng buka-scrolling lagi. Sangat tidak konsisten. Yasudahlah, begitu.

selamat djoem’atan
assalamualaikum.