Category Archives: auk

tugas.blog.tawangmangu

sekalian saja tiga topik dijadikan satu, dimulai dari kata terakhir..

tawangmangu. 21-22.03.2015

ini kali kedua saya kesana, pertama kali dulu bertiga sampai karangpandan, kemudian dari situ sendirian ke tawangmangu.  kemarin itu perjalanan kedua, yang saya pikir lebih ringan, tapi ternyata lebih parah. ± 130 km harus ditempuh dalam 15 jam, plus tanjakan tiada henti sejak tanjakan pathuk, rolling yang sambung menyambung sejak wonosari, kemaleman di jalan di tengah guyuran hujan yang derasnya maksimal, hingga sampai di penginepan jam 10 malem, kurang apalagi coba, selain kurang kerjaan 😐

ya rute kemarin memang rada nyeleneh, dari jogja via wonosari lewat karangmojo melintasi semin, sukoharjo sampai terakhir keluarnya kira-kira 500m sebelum terminal tawangmangu, tenaga saya sampai super habis rasanya, sehingga sempet dua kali menuntun urbano di tanjakan biadab.

tapi serunya kemarin, saya ikut rombongannya mas rofi dan warga kampung karangkajen, makan dan penginepan dijamin oleh pak komar, yang saya belum sempat berterimakasih pada beliau karena pas pulang ditinggal rombongan karena gak bisa lagi ngejar kecepatan para pesepeda paten itu.  bagian menyenangkan lainnya, saya banyak kenal dengan teman baru lagi, menariknya satu teman baru ternyata justru bekerja di kampus tempat saya kuliah sekarang 😀

urbano

sedikit menyesal memang, pas minggu paginya tak sempat ikutan nanjak lagi ke cemorosewu, yang konon jalan rayanya adalah tertinggi di P. jawa, lha 1900 mdpl jeh, sementara tempat nginep aja tingginya sudah 1200 mdpl, dan beda elevasi segitu cuma dalam jarak kurang lebih 9 kilometer, saya nyerah duluan, karena inget pulang yang harus menempuh 100 km-an lagi. nantilah kalau ada waktu suatu saat kesitu (lagi).  dan bener pas pulang saya keteteran, terlebih tambahan pannier, walau cuma satu sisi ternyata lumayan terasa saat tenaga sudah nyaris habis, syukurlah akhirnya sampai Jogja lagi jam 5 sore setelah mampir sana sini selepas jam 9 pagi dari tawangmangu.

blog auk 29.03.2015

nggak terlalu penting memang, tapi di emaiol masuk ada notifikasi kalau hosting blog auk akan berakhir tanggal segitu, sebenernya domain auk.web.id sudah saya perpanjang sih, iya karena murah,. cuma 55 ribu saja plus ppn.  tapi soal hosting saya belum tahu, apa akan memperpanjang hosting, atau sementara pakai parking domain di blogspot, entahlah belum tahu.  sementara untuk memperpanjang hosting, budgetnya belum ada haha malah curcol, padahal cuma 118 rb coba, tapi masa hal lain yang lebih penting saat ini dibanding itu, halagh intinya saya lagi bokek, itu aja 😆

nantilah kalau ada rejeki lagi mari kita perpanjang suatu saat, entah cepat entah lambat, yang penting masih ada media untuk nulis (segala sesuatu yang sering absurd tak beraturan adanya).

tugas 04.2015

ya saya harus menjalani tugas akhir, akhirnya walaupun lambat, langkah ini sampai juga sampai etape terakhir dalam perjalanan sekolah nan panjang ini, tinggal one closer to the edge, kata lirik lagunya linkin’ park.  lebih harus banyak belajar membaca, menulis dan merendahkan hati dan diri.  dan bendera start memang terlihat dilambaikan mengantarkan jika ingin melihat bendera finish menyambut, gitu sih yang saya liat di balapan F1. lah malah ngaco, intinya begitulah.

mungkin ibarat sepeda, untuk nanjak, selain mengenali medan, juga harus nganu.. argh pokoknya begitulah, tak sampai seminggu menunggu blog ini mau diapakan, foto-foto perjalanan teramat sedikit untuk dipamerkan disini, paragraf terakhir ini makin random dan tak beraturan, mungkin saatnya disudahi dulu, sementara waktu.

b.e.g.i.t.u.l.a.h..

Advertisements

merusak diri sendiri

menurutku, sepertinya sudah kecenderungan sebagian besar manusia untuk bersifat destruktif, lebih-lebih terhadap dirinya sendiri.  Mungkin tanpa sadar, kebanyakan sadar, melakukan hal begitu apa dirinya berulang-ulang.   Padahal sudah tahu rumusnya kalo semua perbuatan negatif akibatnya cepat atau lambat harusnya mesti negatif.

Misal, contoh pada manusia bernama diri saya sendiri : males!

Sudah tahu itu kebiasaan jelek, hasilnya juga jelek.  Masih saja suka dilakukan.  Berulang-ulang.  Tak jera-jera, tak kapok-kapok.  Tak juga belajar dari pengalaman.  Racetha!

Seandainya saja boleh memaki-maki diri sendiri, sudah saya lakukan sejak dulu.  Atau melempar kaleng rombeng ke muka sendiri.  Semacam barang jelek kok ya mau-maunya dipiara.

Karepmu opo toh, mz…

Nah kan, saya jadinya memaki diri sendiri, sepagi hari..

rha-sha-kanh!

kelebihan blog gratisan

sekarang blog gratisan yang hidup rasanya cuma dua : wordpress & blogspot.  keduanya punya kelebihannya sendiri-sendiri.  wordpress itu simpel, dashboardnya gampang dicerna, yang jelas gampang banget dipakenya, makanya saya pake platform ini untuk ngeblog sampai jadi blog-self-hosting-auk ini. kalo blogspot kelebihannya gampang dicustomize, terintegrasi dengan akun google.

kelebihan lain dari kedua blog itu, yang mana adalah blog gratisan, database blog relatif aman, karena adanya di server mereka.  selama google & wordpress tak bangkrut & berubah pikiran (semacam multiply dulu) maka semua postingan insya Allah aman.

itulah yang saya rasakan saat sadar ada beberapa postingan, yang walaupun tak begitu penting-penting amat, tapi toh itu sejarah, dan hilang selama-lamanya, gara-gara dulu lupa dan malas back up data, sementara saya pun tak mengaktifkan plugins auto back up yang saya juga.

mungkin saatnya menginstall plugins itu.

don’t damn me

Don’t damn me when I speak a piece of my mind
’cause silence isn’t golden when I’m holding it inside
’cause I’ve been where I have been & I’ve seen what I have seen
I put the pen to the paper ’cause it’s all a part of me

Be it a song or casual conversation to hold my tongue speaks of quiet reservations
your words once heard they can place you in a faction
my words may disturb, but at least there’s a reaction

– guns n’ roses

WP_20150303_001

sebenernya cuma ingin pamer kaos baru, sih
demikianlah..

reminisce

/reməˈnis/
indulge in enjoyable recollection of past events


part 1.

Tahun ini, Enstein membuktikan teorinya kalau waktu adalah hal yang relatif. Bagi orang lain mungkin tidak terasa, bagi diriku mungkin juga begitu. Nyatanya beberapa bulan lagi usiaku sudah tak lagi berada di zona 30-an.

Kalau ada komentar “kentara hidup di era mana” mungkin menurut mereka yang muda (atau yang masih merasa muda) adalah hal yang lucu-lucuan, tapi bagiku itu sudah hal yang netral. Memang nyatanya hidupku dimulai di tahun 70-an, mengalami segarnya kabut di tahun 80-an, musik yang menyenangkan telinga di era 90-an sampai tiba di tahun 2000-an, itu empat dekade.

Senang-senang yang berlebihan rasanya sudah cukup, kadar kenekatan juga harus mulai dikurangi. Aku pikir mungkin usia mentalku agak terlambat dewasa, walau tak terukur secara ilmiah, menurutku begitu. Mengutip kalimat bijak bang Alex akan obrolan tentang hal ini …

semacam curhat saat usia tak memungkinkan lagi panas bersilat,
tak lagi serengkah biasa

..katanya pertimbangan orang-orang tercinta yang harus dilindungi dan dipikirkan lebih-lebih dari diri sendiri menyebabkan tak bisa lagi karena emosi jadi enteng clurit ditenteng, ya nyatanya dulu pernah juga begitu.

Kemarin aku melihat beberapa status kawan kuliah, yang beranjak hijrah tak lagi memikirkan masalah dunia. Senang membacanya. Senang melihat mereka yang sudah jadi apa-apa, sementara diri sendiri betapa memalukan belum beranjak kemana-mana.

Ya saatnya berpikir tua. Sudah saatnya memilah-milah kemudian memindahkan sebagian besar data ke folder reminisce untuk disimpan, sementara sebagiannya lagi mulai ditata lagi, walau tentu tak lagi bisa sesigap dulu.

Saatnya kemudian meresapi & menumbuhkan semua cinta yang tersebar dari awal membuka pintu, saat pulang nanti.

.

Old pictures that I’ll always see
I ain’t got time to reminisce old novelties

– yesterday, Guns n’ Roses

/part 2.

Menurutku, hidup manusia itu terbagi atas dua masa dan dua peran ; penonton dan pelaku.

Masa pertama adalah saat hanya menjadi penonton atas hal-hal yang serius yang adalah tugas orang lain, di sisi lain adalah sebagai pelaku apapun yang diinginkan naluri, sebebas-bebasnya.

Maksudku, masa muda tentunya, yang maunya menang sendiri walau salah tak peduli[1]. Eranya memberontak terhadap segala macam tatanan tanpa memikirkan konsekuensinya, yang menanggapi hidup dengan seruan“gimana nanti!, bukan atas dasar pertanyaan: besok gimana?[2]

‘Masa yang fungsional dan adaptif, begitu mengutip pernyataan B.J. Casey di tulisan mengenai darah muda itu, masa-masa yang memang seharusnya pembelajaran bagi orangtua untuk bisa lebih mengerti apa yang diinginkan dan dipikirkan anak-anaknya[3].

Anak-anak kebanyakan tidak terlalu memikirkan hal-hal serius semacam apa yang dikerjakan orangtuanya, bagaimana hidup mereka berjalan . Tahunya adalah menjalankan perannya saja, sementara supply kehidupannya adalah urusan orangtua.

Bagian kedua adalah kebalikan total dari bagian pertama.

Mungkin starting pointnya dimulai saat mulai memasuki pernikahan. Bisa jadi sebelum titik itu dicapai. Saat dimana merasa kalau saat senang-senang tanpa memikirkan konsekuensi sudah jauh berkurang. Peran pelaku kehidupan sudah dirasakan muncul, hidup tak lagi untuk diri sendiri. Sudah sering begitu memikirkan resiko atas apapun.

Masalahnya adalah ada beberapa orang yang terkadang lupa akan batas yang tak terlihat antara dua masa itu. Ada masa transformasi yang mau tak mau harus dilalui, masa adaptasi, cope, dan penyadaran diri yang harusnya terpikirkan, atau dipikirkan.

Kalau sampai lupa ada batas, disitulah titik yang berbahaya. tak sadar kalau waktu terus berdetik. Trance atau blackout hingga lupa sama sekali akan sekitarnya, bahkan ada dimana & kapan pun tak ingat lagi.

Kalau sudah begitu proses penyadaran diri bisa jadi susah sekali, kecuali benar-benar berusaha meledakkan pikiran, meletakkan kembali ingatan akan batas

[1] Darah muda, Rhoma Irama
[2] Jejak-jejak h.204, bubin LantanG
[3] Majalah National Geographic edisi Oktober 2011.

.

Kau harus bisa berlapang dada,
kau harus bisa ambil hikmahnya,
karena semua tak lagi sama
– So7

//bagian 3

Kemain, aku membuka windows explorer dan merasa penataan folder-folder di komputer teramat berantakannya. Merasa tak nyaman akhirnya pelan-pelan ditata. Memilah-milah file yang penting dan tidak, mengatur ulang, mengklasifikasikan menurut jenis dan peruntukkannya.

Hal sederhana yang sedikit merepotkan. Ada beberapa file yang bingung mau dimasukkan kemana, akhir-akhirnya seperti yang biasa aku lakukan. Membuat folder bernama etc. Sesuai judulnya, isinya adalah hal-hal yang mungkin kalau di blog masuk kategori uncategorized.

Coba ya pikiran manusia semuanya bisa dibuat begitu, jadi tiap hari sebelum membuka pikiran, otomatis melihat urgensinya sebelum melakukan langkah selanjutnya. Tidak semua orang bisa begitu, kadang berpikir secara random, melakukan hal secara acak, tak beraturan, hasilnya tentu tak bagus.

Tapi begitulah manusia dengan segala keterbatasannya, yang kadang dijadikan senjata untuk membunuh dirinya sendiri dengan segala pemakluman yang dibuatnya sendiri. Manusia disini maksudnya aku. Bukankah keterbatasan yang diberikan-Nya dimaksudkan untuk diatasi, bukan hanya diam bengong menonton. Bukankah begitu?

terakhir, kalimat bijak putri mantan presiden Indonesia, mbak Allisa Wahid, bagus dibaca-baca lagi,  terimakasih.

Abah & Umi

Kalau di negeri seribu hujan sana, mungkin abah adalah panggilan untuk kakek.  Tapi di negara seribu sungai, abah adalah panggilan yang jamak untuk seorang ayah.  Begitu pula panggilan untuk saya dari anak-anak, atau panggilan yang saya biasakan untuk anak-anak.

Kenapa begitu? Karena saya besar disini, sedari kecil disini.  Karena janggal lah kalau tiba-tiba saya minta dipanggil bapak, atau ayah, apalagi papah, haduh sungguh metropolitasn sekali panggilan terakhir itu.

Segitu pentingkah panggilan abah bagi saya?  Entahlah bagaimana, tapi menurut saya sangatlah penting, karena panggilan yang menunjukkan kesederhanaan, itu saja.

Pun kenapa honey dipanggil umi, bukan mama sebagai kata pengganti ibu disini. Itu pun karena di kampungnya sana, itu panggilan yang umum untuk seorang ibu, jadinya begitu, mungkin sekaligus sebagai pengingat darimana asal abah uminya ini.