Category Archives: sepeda

kecepatan rata-rata

life is not a race..
– pepatah entah

Iseng melihat-lihat daftar workout di akun endomondo saya, ternyata kecepatan bersepeda saya relatif stabil, kecepatan rata-rata di jalan relatif datar sekitar 17 km/jam, sedangkan di jalan yang relatif nanjak kecepatan rata-rata sekitar 10-11 km/jam.

Mungkin karena pola pedaling yang ideal untuk diri saya sudah terasa & tertemukan, itu artinya nganu.. halagh opo ya, ya aku pikir sih lebih menikmati bersepeda dengan pola seperti itu. Mengayuh tak terlalu cepat, juga tak terlalu lambat, terkecuali kalo pas ketemu tanjakan nan biadab. Yang penting bisa mengelola tenaga agar tak habis di tengah perjalanan dan bisa sampai titik finish dengan riang gembira.

Aku pikir™ perlu waktu setahun lebih bagiku hingga tahu titik nyaman dalam bersepeda, mulai sensitif apabila ada setingan yang terasa agak kurang, dan mulai benar-benar menikmatinya. Kurangajarnya terkadang pikiran ini jadinya menuntut perbaikan-perbaikan minor jika ada sedikit kejanggalan saat tubuh di atas sadel.

Lebih-lebih tiga titik tubuh yang bersentuhan langsung dengan sepeda (telapak tangan, kaki, dan pantat 😀 ) seperti otomatis memberi sinyal pada otak kalau ada yang mulai terasa tidak enak. Sungguh wuih sekali!

Menyenangkan kalau sudah bisa stabil dalam perjalanan. Itu hal terpenting dalam bersepeda, dalam hal apapun sebenernya sih. Lagian ngejar apa juga hidup ini..yg penting tujuan tercapaikan, nikmati prosesnya, cukup sudah *tsah.

Advertisements

Kiss can do

Ini adalah perjalanan bersepeda ketiga saya bersama personil yang sama : mas radit dan mas saktya.  Dan selama tiga kali bersepeda dengan mereka ada beberapa hal yang selalu saya alami ((sebelumnya begitu yang terjadi, pertama saat ke Selo, kedua saat ke Bebeng)) :

  1. jarak yang bikin ngos-ngosan
  2. tanjakan yang gila-gilaan
  3. turunan yang ampun-ampunan
  4. jalan rusak edan-edanan
  5. hutan yang aduhai
  6. pulang lumayan malam

lalu apa hubungannya dengan judul yang lumayan aduhai di atas itu?
oh itu, nama plesetan untuk salah satu destinasi wisata di Jogja : Gua Kiskendo 😀

sebenernya sih rute menuju Gua Kiskendo itu biasa saja, dengan catatan kalau kesananya naik mobil atau sepeda motor, yang menjadi luar biasa atau kalau mau dibilang kurang kerjaan sekali: kalau kesananya naik sepeda.

Hari sabtu kemarin, 14.03.2015 saya akhirnya kesampaian untuk mencicipi rute penuh tanjakan yang sebelumnya pernah saya survei naik motor.  Tapi tak pernah terbayang kalau perjalanan kali ini sungguh warbyasa!

Kali ini selain bersama mas radit dan mas saktya, juga bersama mas revo yang dulu pernah sama-sama ke karangpandan (lagi-lagi sama mas radit juga), plus teman seperjalanan baru bernama mas aziz.

Kalau sebelum-sebelumnya saya sudah tahu tipikal pesepeda yang lainnya, kali ini saya baru tahu kalau ada pesepeda yang dengkulnya sepertinya sudah matirasa, itulah mas aziz yang tak peduli tanjakan sudah bikin saya nyerah dan ndorong sepeda, dia malah terus nggowes tanpa bebas, mungkin kalau kata teman-teman istilahnya : wuedyanthir!  Salut lah untuk power nanjak beliau itu!

Pagi-pagi menjelang pukul delapan, setelah hujan yang rajin datang menjamah jogja sudah mulai reda, berlima dengan mas aryo, kumpul di sekitar Tugu untuk menuju arah barat.  Mampir sarapan soto di tengah-tengah jalan Godean, kemudian tak lama datang aziz yang menyusul.  Selesai sarapan, mas aryo balik ke timur, tim sak tekane tetap nekat ke barat.

Awalnya jalan hanyalah datar, begitu terus sampai perempatan Kenteng-Nanggulan, tapi beberapa kilometer setelah itu, tanjakan-tanjakan biadab mulai ramah menyapa.  Dan terus menerus tanpa henti, sampai puncaknya di belokan deket pohon beringin.  Titik dimana empat dari lima lelaki memutuskan untuk mendorong sepeda sampai puncak tanjakan, sementara ultraman bernama aziz nyelonong tanpa dosa dengan sepedanya.

#dorong

Saya pikir tanjakan sudah berakhir, ternyata terus bersambung sampai area Gua Kiskendo ((cuma mampir doang, jadi saya males foto-foto di tempat ini, guanya sendiri ternyata berada di dataran yang lebih rendah dari parkiran)) 😐
lumayan lama berhenti disitu karena sekalian makan siang dengan menu lotek.

#FUllteamSehabis makan siang, karena niat baik mengantar salah satu personil ganteng bernama revo ke waduk Sermo, akhirnya secara aklamasi diputuskan untuk pulang via Sermo.  Awalnya sih ketawa-ketawa karena banyak turunan, tapi habis itu, tanjakan lagi, lagi-lagi tanjakan, sungguh ..

Tapi sudah kepalang tanggung, tapi asiknya di ruas jalan antara Kiskendo-Sermo, walaupun rolling-nya edan-edanan, ada beberapa curug ((foto curug di bawah dari halaman facebook-nya mas aziz)) alias air terjun yang berhasil dilewati, salah satunya curug sigembor kalo ga salah, yang posisinya persis di pinggir jalan.

11071623_10203589211521637_5372806720167745436_n
Jadi begitulah, setelah beberapa kali dihajar tanjakan, akhirnya ketemu turunan yang curamnya tak kalah gila-gilaan, itu di etape terakhir menuju waduk Sermo sebelum akhirnya melepas revo ketemu dengan seorang gadis manis yang memanggilnya abang di perempatan,  rencananya kemping dengan adik angkatannya disitu 😐 *kalimat ini terasa janggal*

Menjelang maghrib, aziz melesat pulang, saya mampir maghriban sama saktya di musholla, giliran radit melesat duluan.  Akhirnya tersisa saya dan mas saktya terseok-seok kembali ke jogja, yang ternyata masih 30 km, dan masih ada tanjakan pula *istighfar*

Mampir sejenak untuk dinner lele goreng, berpisah di pertigaan, saktya ke seputaran stadion mandala krida, saya menuju pulang, sesampai kos sudah nyaris jam 10 malam, dua belas jam lebih dijalan dengan jarak kurang lebih 80 km.

Begitulah.
Capek!
tapi asik!

..

*post scriptum

Oh iya perjalanan kali ini dengan sepeda lipat, polygon urbano sebagai pengganti mbak surly yang pensiun dini, yang baru saya pakai kurang lebih seminggu , tapi sudah mengalami penyiksaan maha berat hehe.  Ini sekilas fotonya di tengah jalan feat. mas radit dan latar belakang tanjakan yang siap menerkam.

#Radit
m/

Sadel Sepeda Lipat

saya pikir, Surly yang dibeli sekitar tiga bulan yang lalu itu bakal menjadi sepeda terakhir saya.  ternyata saya salah.  Karena sesuatu dan lain hal, sepeda touring berwarna ijo itu terpaksa dipensiunkan.

Saat mikir-mikir ntar pake apaan, tiba-tiba kedua bola mataku tertumbuk pada sosok mungil yang diam malu-malu di pojokan bengkel mas Rofi.  Dan ya begitulah, kesan pertama menungganginya *duh bahasanya* sungguh di dugaan.  Stabil dan lumayan binal di tanjakan *duh mz..*

Hari minggu kemarin langsung diujicoba, tak tanggung-tanggung, nanjak ke tugu Kaliurang, kebetulan sudah berapa lama tak kesitu.  Selain stabil selama nanjak, juga kayuhan terasa lebih enteng, paling tidak dibanding sepeda-sepeda yang pernah saya pakai sebelumnya.

Beberapa part di sepeda lipat generasi awal itu, masih bawaan aslinya, kecuali beberapa warisan sepeda terdahulu.  terakhir adalah mengganti sadel.  Part yang menurut saya sangat penting untuk diperhatikan dan diupgrade jika ada kesempatan disamping groupset, terlebih jika sering digunakan, lebih-lebih jika untuk perjalanan jauh.  Soalnya bagian badan yang kontak langsung dengan sepeda kan tangan, kaki dan pantat hehe

Jadi ya demikianlah, inilah penampakannya, ukurannya ga beda jauh sih dibanding bis..

Urbano

ke curug Sidoharjo

hari rabu pagi, tanggal 25 februari 2015, tiba-tiba saja saya ingin bersepeda yang rada jauh, yang rada nanjak, pilihan tujuan yang terpikir saat itu ada dua : ke gua Kiskendo via Kenteng | curug Sidoharjo, Samigaluh.  Akhirnya memutuskan untuk ke curug saja, tampaknya asik membayangkan sesampai sana langsung berendem di air yang adem.

kemudian terpikirkan untuk mengajak partner in crime ngepit mas Radit yang berkenan ikutan tapi menyusul, akhirnya saya berangkat duluan dan bertemu beliau di pertigaan dekat kantor kecamatan Minggir.  Jalurnya ya searah waktu saya ke Suroloyo dulu, tapi ternyata jalan ke curug justru lebih dekat, pertigaan kesitu adanya mungkin sekitar dua kilometer sebelum kecamatan Samigaluh, belok kanan kalau dari arah Seyegan.

Tanjakan sedari pertigaan menuju arah curug itu lumayan naudzubillah, panjang tak kira-kira, membuat saya beberapa kali berhenti mengatur napas dan minum.  Arah menuju curug sendiri gampang sekali, karena sekarang sudah ada papan petunjuk sedari pertigaan sampai dengan menuju MTsN Sidoharjo, kalau dari pertigaan jalan raya samigaluh kira-kira 4,1 km.

Ikutin saja jalan aspal sampai nantinya ketemu MTsN, nanti ada jalan tepat di samping sekolahan, tinggal nanjak lagi (iya nanjak lagi) sekitar setengah kilometer .  Nantinya di depan rumah penduduk, motor terpaksa harus parkir, karena cuma ada jalan setapak menurun menuju curug, terkecuali sepeda, masih bisa dinaikin di beberapa tempat ((kalau nyali cukup karena lumayan sempit dan cuma berupa jalan tanah yang super sempit)), saya sih ikhlas nuntun saja turunnya.

#curug

Bagusnya air terjun ini tidak begitu banyak dikunjungi, jadinya terasa alaminya, kemarin sih ada satu bakal calon warung yang baru mau akan dibikin.  Ketinggian airnya juga lumayan, tebingnya keren, airnya dingin sekali, menggoda saya untuk nyebur ke dalamnya, berendam dan berenang-renang semaunya.

Lepas tengah hari, puas berbasah-basahan, akhirnya cabut dari situ, saya terus menuju rumah teman yang mana harus nanjak lagi (iya nanjak lagi) , sementara mas radit memutuskan pulang kembali ke Jogja. Jadi begitulah.

 -m/-

#1 ke Ponorogo

mungkin mulai sekarang lebih bagus juga, tiap perjalanan pakai sepeda dikasih nomor urut, maksudnya yang lumayan jauh atau agak ajaib di tahun 2015 ini.

Ini adalah perjalanan bersepeda rada jauh di awal tahun ini.  Sebenarnya sudah direncanakan entah kapan, eh tiba-tiba seorang kawan ((kawan sekaligus guru kehidupan bagi saya, yang mencak-mencak mendengar rencana saya mau ke Ponorogo naik sepeda, alhamdulillah dikhawatirin)) baik tiba-tiba saja menghubungi saya minta bantuan nyariin rental mobil, berhubung beliau nantinya pulang via surabaya, jadi saya juga diminta tolong untuk ngambil mobilnya yang ditinggal di Ponorogo.  Sampai sini kira-kira sudah bisa dimengerti ?  Pokoknya begitulah

/etape 1. 85 km

Hari sabtu (10.01.2014) sore menjelang maghrib , sekitar pukul 05.30 saya pun bergegas mengemasi barang dalam pannier ((tas sepeda yang dipasang di boncengan itu lah, sekalian nyobain dibawa jalan jauh)), mengisinya dengan barang-barang yang kira-kira diperlukan di perjalanan ((ya peralatan standar semacam peralatan mandi, tools, ban dalam cadangan, air minum)), menyiapkannya di rear rack, kemudian membaca do’a dan pelan-pelan beranjak.

Sebelumnya memang sudah bertanya-tanya jalur Jogja-Wonogiri sama teman, juga membaca catatan perjalanan mas rudi kismo saat turing Jakarta-Bali.  Akhirnya saya pun meluncur ke arah Solo, untuk kemudian berbelok ke stasiun Srowot.  Dari situ sok tau sendiri, nggak pake nanya-nanya, akhirnya nyasar beneran, untung akhirnya sadar kalau sesat beneran di jalan kalau malu bertanya, syukurlah saya bisa kembali ke jalan yang benar. Hore!

Akhirnya sampai pertigaan Wedi, terus ke Bayat, Cawas, Bulu, melewati sawah yang gelap, hutan jati yang sepi.  Perjalanan malam hari sendirian gitu bagus juga, jadi makin rajin berdoa hehe

Akhirnya menjelang tengah malam sampai di pertigaan terminal Krisak, terus ke kota Wonogiri, mampir sejenak dinner di angkringan yang cuma tersisa sate usus dan tempe goreng.  Rencana menginap di masjid agung wonogiri gagal karena ternyata pagarnya dikunci, akhirnya memutuskan untuk ke pom bensin alis SPBU terdekat.

Alhamdulillah, penjaga spbu nya berbaik hati membolehkan saya tidur di musholla, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 12 malam.  Mencoba untuk tidur di tengah godaan nyamuk, sampai akhirnya subuhpun tiba.  Numpang mandi sebentar kemudian subuhan dan perjalanan pun dimulai lagi.

depan musholla spbu tempat tidur sejenak

depan musholla spbu tempat tidur sejenak

Secara garis besar jalanan Jogja-Wonogiri relatif datar, hanya ada beberapa bagian yang agak menanjak dan yang jelas sepi di beberapa ruas jalan, yaiyalah sudah larut malam bingit.  Untungnya di beberapa persimpangan jalan selalu ada orang-orang baik yang dengan baik hati menunjukkan jalan.

/etape 2. 78 km

Tak disangka, baru mulai mengayuh pedal ((setelah sebelumnya memberitahu sama honey kalau saya dalam perjalanan bersepeda, sengaja ngasih taunya di tengah jalan, soalnya kalo dikasih tau pas awal berangkat ntar saya dikhawatirin dengan terlalu gitu, kasian kan kalo kepikiran saya terus, terus saya pun kepikiran yang mikirin saya, rauwis-uwis bro)) , langsung dihadang tanjakan yang lumayan, dan terus begitu tak henti-henti.  Kadang ada sedikit datar, kemudian nanjak lagi.  Kadang ada nurun dikit, kemudian nanjak lagi.

Rasanya sepanjang kota wonogiri – ngadirojo – sidoharjo – jatisrono – slogohimo – purwantoro, didominasi tanjakan tanpa ampun, sambung menyambung menjadi satu.  Baru kira-kira dua puluh kilometer menjelang kota Ponorogo, jalan sudah relatif datar.  Pokoknya bikin kapok kalo sepedaan sendirian kesana, kecuali ada yang mau tersiksa bareng saya, dengan senang hati mau menemani, ada yang berminat mungkin?

Sempat mampir sejenak di sekitar sidoharjo untuk sarapan soto ayam, kemudian menjelang jatisrono tiba-tiba ada pesepeda yang menjejeri. Nama beliau mas Tri Setyo, katanya anggota komunitas sepeda jago.com ((jatisrono gowes community)) , keren juga di gunung gitu ada yang bikin komunitas sepeda.  Akhirnya saya diminta mampir di sebuah toko sepeda yang juga temannya sepedaan, namanya mas Sukar, ngobrol-ngobrol sejenak tentang sepeda.  Alhamdulillah ketemu kawan baru lagi.  Tapi karena waktu sudah sekitar jam 10, saya pamit undur diri, supaya nyampe ponorogo ga siang-siang amat.

gerbang

Ternyata sampai kota tepat menjelang zuhur, akhirnya saya putuskan untuk stop di masjia agung ponorogo.  Kemudian zuhur, kemudian nelpon temen.  Berhubung sudah siang amat, sepeda saya putuskan masuk mobil, kemudian makan siang.  Sungguh ending yang menyenangkan hehe

Rencana membawa mobil ke Jogja malam itu pun ditunda, berhubung rasanya body minta istirahat.  Jadinya numpang tidur di Pondok Gontor, tempat teman saya itu juga nginep sehabis mengantarkan anaknya pulang liburan.  Nantilah bagian di pondok ini saya ceritakan terpisah.

Menjelangh tengah malam, teman saya pamit ke surabaya, saya tidak tahu berhubung tertidur pulas hehe.  Subuh kebangun, kemudian sehabis sholat pamit pada bapak-bapak yang menginap disitu juga.  Nyetir dengan perasaan aman & nyaman karena tak lebih napak tilas perjalanan malam sebelumnya.  Jadi tak pake nanya-nanya lagi.

Empat jam tak terasa sampai Jogja, kemudian begitulah. Tak terasa tiga propinsi dilewati ternyata.  Nanti kemana lagi ya?

________

fit

/adjective
(of a thing) of a suitable quality, standard, or type to meet the required purpose.

sekitar tahun 2004an, waktu di surabaya, saya lagi senang-senangnya dengan segala yang terkait dengan komputer dan segala macam aksesorisnya, sampai-sampai sering dimintain pendapat teman kuliah ataupun orang kantor jika ingin membeli komputer, semacam konsultan gratisan hehe tapi itu sangat menyenangkan, bisa memberi saran atas apa yang orang lain inginkan, apalagi jika ternyata pilihan hasil rekomendasi itu memuaskan klien #halagh

sementara belakangan ini, saya lagi bersenang-senang dengan sepeda, ada pula beberapa teman yang minta pendapat akan rencana sepeda yang akan mereka beli.

dan saya baru nyadar, saran saya ternyata ya gitu juga, mirip saat ngasi rekomendasi untuk beli peripheral komputer dulu.  pertanyaan standar yang pertama adalah : ntar dipakenya buat apa?

misal komputer cuma untuk ngetik doang kan beda spek ama yang untuk grafis.
sementara untuk sepeda lebih banyak pilihan memang, lebih panjang pertanyaannya menjadi: rencana punya sepedanya buat sekedar keliling komplek aja, atau pengen buat downhill, atau ada rencana untuk touring jarak jauh, atau malah alesan yang rada ajaib macam saya yang sukanya ama frame sepeda dengan tubing bulat macam sepeda vintage ..

setelah jelas itu sepeda mau dipake buat apa, sukanya gimana, baru kemudian bicara soal budget

kalau punya duit tak terbatas ya ngga apa-apa sih, cuma sayang aja punya barang bagus sekedar jadi pajangan saja, di sisi lain punya duit banyak sayang juga kalau untuk sesuatu belinya yang kualitasnya abal-abal.

gampangnya kembali ambil contoh sepeda, menurutku tiap orang punya setingan yang berbeda-beda, hanya ada satu sepeda yang bakal bener-bener nyaman dan pas dengan body anda.   Tubuh tidak akan bisa dipaksa untuk nyaman dengan sepeda yang setingannya tidak enak, sepedanya lah yang harus diseting supaya pas dengan tubuh, kadangkala harus di upgrade supaya pas dan enak.

budget mah bisa dicari, tujuan utamanya kan supaya bikin tubuh nyaman, pikiran tenang.

…sepeda aja harus begitu lhoh, apalagi pasangan hidup #eghlogh

misuh-misuh #JLFR

Ada seorang temannya teman yang tampaknya misuh-misuh dengan keberadaan rombongan pesepeda yang menguasai jalanan Jogja di jum’at malam terakhir di 2014. Mungkin naik mobil yang nyaman saat mau liburan panjang di akhir tahun, mungkin naik motor, entahlah.

Entah sudah berapa kali yang misuh-misuh itu pernah berkendara di jalan saat Jogja last friday ride digelar, entah berapa kali mungkin dia berteori bahwa pengendara sepeda yang menguasai jalan cuma beberapa jam dalam satu bulannya itu bikin begitu menyebalkannya.

Entah dia tahu apa tidak dalam kesehariannya itu kendaraan apa sebenarnya yang bikin penuh jalan, siapa yang parkir di pinggir jalan menutup jalur sepeda.

Entah apa pernah dia mengamati beberapa pengendara kendaraan bermotor yang kadang juga menutupi seruas jalan yang dikhususkan untuk parkir pesepeda di lampu merah di barisan paling depan supaya tak kena knalpot kendaraan.

Entah apa dia juga mikir perbandingan dimensi kendaraan bermotor dan sepeda yang dianggapnya kurang beradab saat itu.

Entah mangkel karena tak bisa membunyikan klakson semaunya untuk membuka jalan kemudian menggeber gas menyemburkan karbonmonoksida selapangnya ke udara.

Mungkin tak mengerti bahwa itu semacam demonstrasi di jalanan Jogja, untuk sesekali membuka mata kalau semua orang punya hak yang sama di jalan. Kalaupun ada yang mungkin dianggap sedikit kurangajar mungkin itu adalah sebagai cermin ego semua pengendara saat di jalan.

Mungkin sesekali harus turun dan ikut mengayuh pedal di jalan, bukan cuma beberapa jam di jum’at malam terakhir tiap bulan, biar tahu siapa yang sebenarnya yang harus (tidak) misuh-misuh di jalan.

Tapi, ya mungkin pengemudi kendaraan bermotor semuanya adalah tuan terhormat yang harus dihormati di jalan yang tak pernah salah dan taat aturan lalu lintas.

Mungkin, entahlah..