Sadel Sepeda Lipat

saya pikir, Surly yang dibeli sekitar tiga bulan yang lalu itu bakal menjadi sepeda terakhir saya.  ternyata saya salah.  Karena sesuatu dan lain hal, sepeda touring berwarna ijo itu terpaksa dipensiunkan.

Saat mikir-mikir ntar pake apaan, tiba-tiba kedua bola mataku tertumbuk pada sosok mungil yang diam malu-malu di pojokan bengkel mas Rofi.  Dan ya begitulah, kesan pertama menungganginya *duh bahasanya* sungguh di dugaan.  Stabil dan lumayan binal di tanjakan *duh mz..*

Hari minggu kemarin langsung diujicoba, tak tanggung-tanggung, nanjak ke tugu Kaliurang, kebetulan sudah berapa lama tak kesitu.  Selain stabil selama nanjak, juga kayuhan terasa lebih enteng, paling tidak dibanding sepeda-sepeda yang pernah saya pakai sebelumnya.

Beberapa part di sepeda lipat generasi awal itu, masih bawaan aslinya, kecuali beberapa warisan sepeda terdahulu.  terakhir adalah mengganti sadel.  Part yang menurut saya sangat penting untuk diperhatikan dan diupgrade jika ada kesempatan disamping groupset, terlebih jika sering digunakan, lebih-lebih jika untuk perjalanan jauh.  Soalnya bagian badan yang kontak langsung dengan sepeda kan tangan, kaki dan pantat hehe

Jadi ya demikianlah, inilah penampakannya, ukurannya ga beda jauh sih dibanding bis..

Urbano

merusak diri sendiri

menurutku, sepertinya sudah kecenderungan sebagian besar manusia untuk bersifat destruktif, lebih-lebih terhadap dirinya sendiri.  Mungkin tanpa sadar, kebanyakan sadar, melakukan hal begitu apa dirinya berulang-ulang.   Padahal sudah tahu rumusnya kalo semua perbuatan negatif akibatnya cepat atau lambat harusnya mesti negatif.

Misal, contoh pada manusia bernama diri saya sendiri : males!

Sudah tahu itu kebiasaan jelek, hasilnya juga jelek.  Masih saja suka dilakukan.  Berulang-ulang.  Tak jera-jera, tak kapok-kapok.  Tak juga belajar dari pengalaman.  Racetha!

Seandainya saja boleh memaki-maki diri sendiri, sudah saya lakukan sejak dulu.  Atau melempar kaleng rombeng ke muka sendiri.  Semacam barang jelek kok ya mau-maunya dipiara.

Karepmu opo toh, mz…

Nah kan, saya jadinya memaki diri sendiri, sepagi hari..

rha-sha-kanh!

kelebihan blog gratisan

sekarang blog gratisan yang hidup rasanya cuma dua : wordpress & blogspot.  keduanya punya kelebihannya sendiri-sendiri.  wordpress itu simpel, dashboardnya gampang dicerna, yang jelas gampang banget dipakenya, makanya saya pake platform ini untuk ngeblog sampai jadi blog-self-hosting-auk ini. kalo blogspot kelebihannya gampang dicustomize, terintegrasi dengan akun google.

kelebihan lain dari kedua blog itu, yang mana adalah blog gratisan, database blog relatif aman, karena adanya di server mereka.  selama google & wordpress tak bangkrut & berubah pikiran (semacam multiply dulu) maka semua postingan insya Allah aman.

itulah yang saya rasakan saat sadar ada beberapa postingan, yang walaupun tak begitu penting-penting amat, tapi toh itu sejarah, dan hilang selama-lamanya, gara-gara dulu lupa dan malas back up data, sementara saya pun tak mengaktifkan plugins auto back up yang saya juga.

mungkin saatnya menginstall plugins itu.

tulisan Elia Bintang

preambule :
kali ini ada penulis baik yang rela jadi penulis tamu di blog ini. jujur sebenarnya saya malu memuat tulisan beliau, karena isinya malah melambungkan perasaan saya, takutnya saya terlempar ke langit dan lupa mendarat lagi ke planet ini, tapi tulisannya memang menyebalkan, rapi sekali, inilah dia tulisannya :

Kebangkitan Blog Jujur
Elia Bintang ((ocehannya kadang-kadang juga bisa ditemui di akun twitternya : @eliabintang))
The author of Pantai Kupu-kupu and the man behind Controversy

Waktu gue nawarin diri untuk nulis guest post di blog ini, Om Warm ngasih respons yang lucu. Dia bilang dia seneng dan kaget karena belum pernah ada yang nulis guest post di sini dan yang nawarin diri adalah penulis beneran. Gue bilang, harusnya gue yang seneng karena bisa nulis di blog blogger lama.

Gue nggak inget sebenernya kapan Om Warm mulai ngeblog, tapi waktu dulu gue mulai taun 2008, dia udah ada. Jadi, mungkin kami mulai barengan atau dia lebih dulu. Dan, yang gue seneng adalah sampe sekarang blog ini masih jujur.

Pada 2011 ada penelitian di Amerika yang salah satu poinnya gini: 84% pengguna internet di Amerika, yang berumur 25 sampe 34, udah ninggalin paling sedikit satu web favorit mereka karena iklan yang nggak relevan dan intrusif. Intrusif maksudnya nyedot perhatian padahal nggak nyambung, jadinya annoying.

Nggak akan jadi berita besar kalo gue bilang saat ini kita semua udah ninggalin—jangankan satu—banyak blog yang dulu sering kita kunjungin. Alesannya biasanya ya iklan, terus tulisan mereka jadi nggak kredibel lagi karena mereka dibayar untuk nulis gitu, dan blog itu udah kehilangan sesuatu yang awalnya bikin kita dateng dan balik-balik lagi.

Bukannya gue anti-iklan. Nggak. Gue cuma anti iklan yang nggak relevan dan intrusif. Gue nggak masalah ama blogger-blogger yang terlibat program afiliasi. Contoh, kalo blogger buku, yang emang gila baca, nge-review satu buku dan dapet komisi karena ada orang beli buku itu lewat link di review-nya, itu sepenuhnya normal. Dia tetep akan baca buku dan bikin review walaupun nggak dibayar. Tulisannya jujur. Kredibilitasnya nggak diragukan. Dan dia tetep bisa lakuin itu selama yang dia mau.

Tapi ada orang-orang yang lambat baca situasi. Mereka tetep lakuin hal yang sama walaupun blog mereka makin lama makin sepi. Mereka ini, dalam waktu dekat, mesti cari cara lain kalo masih pengen dapet duit dari blog.

Pernah ada artikel gue yang ditwit sama Om Warm. Pernah juga sama orang yang jumlah follower-nya lima kali lipat lebih banyak tapi kredibilitasnya diragukan. Hasilnya, twit dari Om Warm datengin traffic sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada twit orang itu. Padahal kontennya, menurut gue, sama-sama menarik—atau sama-sama nggak menarik.

Banyak perusahaan, atau individu yang kerjaannya berkaitan erat dengan publik, nggak ngerti soal media sosial dan apa pun yang berhubungan ama internet marketing. Tapi mereka nggak akan selamanya nggak ngerti. Padahal teorinya sederhana banget: kita lebih percaya ide yang disebarkan oleh orang yang punya kredibilitas.

Blogger kayak Om Warm mungkin nggak banyak tersisa di Indonesia. Tapi justru blog-blog yang sedikit itulah yang masih enak dibaca dan ngasih informasi yang nggak bias. Perkara itu diliat sebagai kesempatan untuk cari duit atau nggak, itu pilihan masing-masing. Tapi satu hal udah jelas: blog kayak gini ternyata menyimpan kekuatan sosial yang selama ini kurang diperhitungkan.

-m/-

don’t damn me

Don’t damn me when I speak a piece of my mind
’cause silence isn’t golden when I’m holding it inside
’cause I’ve been where I have been & I’ve seen what I have seen
I put the pen to the paper ’cause it’s all a part of me

Be it a song or casual conversation to hold my tongue speaks of quiet reservations
your words once heard they can place you in a faction
my words may disturb, but at least there’s a reaction

– guns n’ roses

WP_20150303_001

sebenernya cuma ingin pamer kaos baru, sih
demikianlah..

film Rajkumar Hirani

menurutku jika seorang sutradara hanya bikin beberapa film dalam karirnya, dan satu filmnya bagus, pasti yang lainnya juga bagus, karena mesti bikinnya serius sehingga fokus pada satu film saja.

seperti misalnya Zack Snyder, sejauh ini dia baru menyutradarai 6 film. Film pertamanya saya tonton adalah Sucker Punch, alur ceritanya beda dan cara bertutur filmnya pun keren. Akhirnya saya pun tak melewatkan film-filmnya yang lain : 300, Man of Steel, Watchmen. Kecuali Dwan of the Dead yang belum ketonton karena kurang suka genre film zombie, juga Legends of Guardian yang entahlah belum tertarik menontonnya.

India juga punya sutradara jenius yang beda. Rajkumar Hirani. Seperti yang sekilas saya ulas di postingan sebelumnya. Beliau baru bikin empat film sejauh ini ((Munna Bhai, Lage Raho Munna Bhai, 3 Idiots, PK)). Genrenya ya drama-komedi-romantis-hepi ending. Tapi kejutan-kejutan yang ada di tiap filmnya itu menarik sekali.

Kemarin, akhirnya saya menuntaskan menonton semua filmnya, yang terakhir Lage Raho Munna Bhai ((film ini keren sekali dalam mengemukakan nilai-nilai ajaran Gandhi)) yang sempat tertunda ternikmati karena terkendala subtitle yang kacau.

Setelah saya amati, benang merah dari setiap film yang disutradarainya itu adalah pesan yang mulia, yaitu tentang pentingnya belajar dan persahabatan, keyakinan, kejujuran serta hormat kepada orang tuadan unsur dasar yang tak pernah mau ketinggalan : cinta (asik!).

Tadinya saya mau bikin resensi ke empat filmnya, tapi kok ya rasanya sayang sekali kalau tidak ditonton sendiri.  Jadi, tontonlah, rasakan pesan-pesan keren yang disampaikan dalam film-filmnya.  Mungkin bagusnya nonton sendirian saja, jadi tak malu saat kedua mata tiba-tiba terasa berkabut dan berkaca-kaca di beberapa penggal ceritanya #eh

terakhir, adalah Boman Irani, aktor yang selalu muncul dalam film-filmnya Rajkumar adalah pemain yang saya gemari karena perannya seringkali bikin kesel (tapi keren) hehe

Mohandas Karamchand Gandhi

beliau lebih dikenal dengan nama Mahatma Gandhi, tokoh terkenal dan luar biasa dari India. Saya sendiri baru benar-benar mulai memahami siapa beliau setelah menonton film Lage Raho Munna Bhai.

bahwa banyak yang lupa kalau seringkali menjadi pemuja seseorang, simbol-simbol, tapi justru lupa ajarannya, tak ingat lagi akan praktik nyata di dunia. yang ada hanya mempermasalahkannya, mempersoalkannya, itu saja.

mulut berbusa-busa tapi badan seperti binasa.

terimakasih, Bapu..