Tag Archives: Sermo

Kiss can do

Ini adalah perjalanan bersepeda ketiga saya bersama personil yang sama : mas radit dan mas saktya.  Dan selama tiga kali bersepeda dengan mereka ada beberapa hal yang selalu saya alami ((sebelumnya begitu yang terjadi, pertama saat ke Selo, kedua saat ke Bebeng)) :

  1. jarak yang bikin ngos-ngosan
  2. tanjakan yang gila-gilaan
  3. turunan yang ampun-ampunan
  4. jalan rusak edan-edanan
  5. hutan yang aduhai
  6. pulang lumayan malam

lalu apa hubungannya dengan judul yang lumayan aduhai di atas itu?
oh itu, nama plesetan untuk salah satu destinasi wisata di Jogja : Gua Kiskendo 😀

sebenernya sih rute menuju Gua Kiskendo itu biasa saja, dengan catatan kalau kesananya naik mobil atau sepeda motor, yang menjadi luar biasa atau kalau mau dibilang kurang kerjaan sekali: kalau kesananya naik sepeda.

Hari sabtu kemarin, 14.03.2015 saya akhirnya kesampaian untuk mencicipi rute penuh tanjakan yang sebelumnya pernah saya survei naik motor.  Tapi tak pernah terbayang kalau perjalanan kali ini sungguh warbyasa!

Kali ini selain bersama mas radit dan mas saktya, juga bersama mas revo yang dulu pernah sama-sama ke karangpandan (lagi-lagi sama mas radit juga), plus teman seperjalanan baru bernama mas aziz.

Kalau sebelum-sebelumnya saya sudah tahu tipikal pesepeda yang lainnya, kali ini saya baru tahu kalau ada pesepeda yang dengkulnya sepertinya sudah matirasa, itulah mas aziz yang tak peduli tanjakan sudah bikin saya nyerah dan ndorong sepeda, dia malah terus nggowes tanpa bebas, mungkin kalau kata teman-teman istilahnya : wuedyanthir!  Salut lah untuk power nanjak beliau itu!

Pagi-pagi menjelang pukul delapan, setelah hujan yang rajin datang menjamah jogja sudah mulai reda, berlima dengan mas aryo, kumpul di sekitar Tugu untuk menuju arah barat.  Mampir sarapan soto di tengah-tengah jalan Godean, kemudian tak lama datang aziz yang menyusul.  Selesai sarapan, mas aryo balik ke timur, tim sak tekane tetap nekat ke barat.

Awalnya jalan hanyalah datar, begitu terus sampai perempatan Kenteng-Nanggulan, tapi beberapa kilometer setelah itu, tanjakan-tanjakan biadab mulai ramah menyapa.  Dan terus menerus tanpa henti, sampai puncaknya di belokan deket pohon beringin.  Titik dimana empat dari lima lelaki memutuskan untuk mendorong sepeda sampai puncak tanjakan, sementara ultraman bernama aziz nyelonong tanpa dosa dengan sepedanya.

#dorong

Saya pikir tanjakan sudah berakhir, ternyata terus bersambung sampai area Gua Kiskendo ((cuma mampir doang, jadi saya males foto-foto di tempat ini, guanya sendiri ternyata berada di dataran yang lebih rendah dari parkiran)) 😐
lumayan lama berhenti disitu karena sekalian makan siang dengan menu lotek.

#FUllteamSehabis makan siang, karena niat baik mengantar salah satu personil ganteng bernama revo ke waduk Sermo, akhirnya secara aklamasi diputuskan untuk pulang via Sermo.  Awalnya sih ketawa-ketawa karena banyak turunan, tapi habis itu, tanjakan lagi, lagi-lagi tanjakan, sungguh ..

Tapi sudah kepalang tanggung, tapi asiknya di ruas jalan antara Kiskendo-Sermo, walaupun rolling-nya edan-edanan, ada beberapa curug ((foto curug di bawah dari halaman facebook-nya mas aziz)) alias air terjun yang berhasil dilewati, salah satunya curug sigembor kalo ga salah, yang posisinya persis di pinggir jalan.

11071623_10203589211521637_5372806720167745436_n
Jadi begitulah, setelah beberapa kali dihajar tanjakan, akhirnya ketemu turunan yang curamnya tak kalah gila-gilaan, itu di etape terakhir menuju waduk Sermo sebelum akhirnya melepas revo ketemu dengan seorang gadis manis yang memanggilnya abang di perempatan,  rencananya kemping dengan adik angkatannya disitu 😐 *kalimat ini terasa janggal*

Menjelang maghrib, aziz melesat pulang, saya mampir maghriban sama saktya di musholla, giliran radit melesat duluan.  Akhirnya tersisa saya dan mas saktya terseok-seok kembali ke jogja, yang ternyata masih 30 km, dan masih ada tanjakan pula *istighfar*

Mampir sejenak untuk dinner lele goreng, berpisah di pertigaan, saktya ke seputaran stadion mandala krida, saya menuju pulang, sesampai kos sudah nyaris jam 10 malam, dua belas jam lebih dijalan dengan jarak kurang lebih 80 km.

Begitulah.
Capek!
tapi asik!

..

*post scriptum

Oh iya perjalanan kali ini dengan sepeda lipat, polygon urbano sebagai pengganti mbak surly yang pensiun dini, yang baru saya pakai kurang lebih seminggu , tapi sudah mengalami penyiksaan maha berat hehe.  Ini sekilas fotonya di tengah jalan feat. mas radit dan latar belakang tanjakan yang siap menerkam.

#Radit
m/